Bogor Senior Hospital, Rumah Sakit Lansia pertama di Indonesia


Bogor Senior Hospital
Hari Minggu 8 September 2019 kami mendapat kesempatan berkunjung ke Bogor Senior Hospital. Rumah Sakit pertama bagi Senior Citizen di Indonesia itu satu kompleks dengan (sedang dalam pembangunan) Senior Living a.k.a Panti Jompo. Berlokasi di Tajur Bogor Jawa Barat. 

Sebenarnya apa bedanya Rumah Sakit umum dengan Rumah Sakit khusus lansia ( lebih 60 tahun)? Pendapat saya, umumnya orang jika perlu dirawat di rumah sakit ingin secepat-cepatnya keluar, berbeda dengan orang tua. Meskipun ada keinginan untuk cepat pulang ke rumah umumnya perawatannya memakan waktu lama bahkan bisa seumur hidupnya. Pengobatan pada orang tua pun melibatkan banyak obat dengan kondisi organ tubuh yang sudah tidak prima lagi. Dan yang penting aspek rehabilitasinya. Itulah sebabnya, jika ada perawatan khusus orang tua pasti lebih baik dari perawatan umum. Mungkin begitu yang ada di benak management Bogor Senior Hospital. 

Kita memulai Hospital Tour dari lantai 3 RS tersebut. Sepanjang koridor tersedia besi agar mudah dipegang pejalan kaki. Tampak kantin di lantai 1 rumah sakit tersebut. Kamar-kamar perawatan pun dibuat / didesign senyaman mungkin tentu dengan perlengkapan medis yang ready to use.  Foto dan video bisa klik (Facebook): http://bit.ly/BogorSH.

Ada juga ruang ICU, hidro therapy, ruang hemodialisa dan tak ketinggalan mobil Ambulance dan Home Care

Mantaplah pokoknya. 

Pengen masuk surga tapi takut mati

Penuaan bisa dicegah - Anti Aging Medicine


Kalau berharap tulisan ini mengenai agama / spiritual, Anda salah. Judulnya hanya sebagai analogi saja. Banyak orang saat ini yang pengen sehat  tapi belum mau action. Setiap ada info kesehatan, dengan semangat mereka berharap kesehatan mereka bisa diperbaiki HANYA dengan mendengar info-info atau mengikuti seminar kesehatan.

"Mau donk saya ikut seminar awet muda / anti aging. Sudah saat rasanya saya peduli mengenai kesehatan saya. Saya nggak mau jadi tua. Kalau bisa awet muda seperti remaja. Tidak mengalami proses penuaan. Bisa nggak ya?"

Padahal hanya dengan ikut seminar kemudian diam lagi sambil menunggu seminar kesehatan berikutnya, itu tidak akan mengubah apa-apa.

Lalu apa yang mesti dilakukan?
  1. Bergaya hidup sehat
  2. Konsumsi anti oksidan
  3. Perawatan kulit

  1. Bergaya hidup sehat
    1. Cek apakah Anda sudah cukup tidur? Minimal 6 -8 jam per hari
    2. Lakukan aktifitas berolahraga, minimal jalan tergopoh-gopoh 30 menit sehari
    3. Diet makanan yang sehat, perbanyak sayur dan buah-buahan, kurangi makanan goreng2n dan manis2 / karbohidrat.
    4. Kendalikan stress
  2. Mau tidak mau, dengan kondisi saat ini (contohnya kualitas udara), Anda perlu konsumsi antioksidan. Carilah antioksidan yang murah meriah, yang terbukti sudah bermanfaat, sebut saja seperti: Glisodin, Astaxanthin dan Resveratrol
  3. Sama seperti perawatan organ lainnya, kulit adalah jaringan yang paling depan. Kualitas udara yang buruk termasuk polusi membuat proses regenarsi kulit secara alamiah tidak sanggup lagi. Untuk itu perawatan kulit adalah memegang peranan penting. Jangan tergiur oleh penawaran2 kosmetik kecantikan yang murah meriah dan abal-abal. 
  4. Pertimbangan dengan serius perubahan gaya hidup Anda, jika Anda:
    1. gemuk / obesitas
    2. sakit gula / diabetes melitus
    3. sakit darah tinggi / hipertensi
    4. kolesterol tinggi
    5. asam urat tinggi

Berkonsultasilah dengan dokter keluarga Anda sebelum terlambat. 

Jalan tergopoh-gopoh / Brisk Walking


Istilah jalan tergopoh-gopoh, pertama kali saya dengar dari sahabat dan guru saya dr. Handrawan Nadesul. Intinya kita berjalan secepat mungkin. Mungkin sama seperti kalau kita kebelet atau datang terlambat pas meeting sudah dimulai. 

Aktifitas olahraga ini selalu saya anjurkan ke pasien-pasien saya yang belum pernah dan akan memulai berolahraga. Nggak perlu muluk-muluk, cukup minimal 30 menit per hari di udara terbuka yang sehat.  Dan ini dilakukan secara bertahap tentunya, misalnya hari pertama 15 menit, hari kedua 20 menit dan seterusnya. Jangan lupa lakukan pemanasan dan pendinginan sebelum dan sesudahnya. 

Sudah banyak yang melakukannya, salah satunya sahabat saya,  Bpk Anton Thedy. Menurut pemilik TX Travel ini yang melakukan jalan tergopoh-gopoh, 50 - 60 menit per hari, manfaat yang diperoleh adalah:

  1. Lingkar perut mengecil
  2. Daya ingat meningkat
  3. Tidur menjadi lelap, tidak bangun bangun
  4. Tidak bangun tengah malam untuk buang air kecil
  5. Stamina tubuh meningkat, jarang kecapaian walaupun beraktifitas seharian


Jadi, apa salahnya kita mulai melakukan aktivitas jalan tergopoh-gopoh. 

Bagi yang ingin terus mengikuti info-info kesehatan yang sederhana, istilahnya yang pengen sehat tapi nggak pengen jadi atlit, yang biasa-biasa aja, silakan masukan data Anda di sini: http://bit.ly/formETN dan follow account instagram kami di @eriktapan.

Informasi Kualitas Udara Jakarta dan sekitarnya bisa klik:


Kualitas udara di Banjarmasin Kalimantan Timur cukup baik




4. Perbandingan Kualitas Udara Jakarta vs Banjarmasin

Hari ini, Minggu 1 September 2019, saya melakukan riset kualitas udara kembali. Ini tulisan saya yang kedua. Yang pertama bisa akses di sini, https://www.eriktapan.com/2019/08/beberapa-kebiasaan-yang-perlu-diubah.html

Seperti biasa, riset ini menggunakan aplikasi AirVisual.

  1. Perjalanan di mulai dari Jakarta khususnya Rawamangun. Ternyata kualitas udara di kota Jakarta menunjukkan 153 sedangkan di Rawamangun agak sedikit rendah Angka yang digunakan adalah US AQI. Penjelasan arti US AQI dan konversinya ke PM2.5 bisa dilihat di akhir tulisan ini.
  2. Tentu banyak dari kita akan berpikiran, mumpung liburan, kita jalan-jalan menghirup udara segar di sekitar Jakarta. Misalnya di Bekasi atau Tangerang. Ternyata kualitas udara dibBekasi masih lebih baik dari di Tangerang. Di Bekasi menunjukkan angka 147 sedangkan Tangerang sudah 151.
  3. Kurang jauh berarti ya dok. Sekalian aja pulang kampung ke Medan atau Manado. Nah, itu pilihan yang tepat. Hari ini, kualitas udara di Medan adalah 57 dan di Manado 55.
  4. Lalu dari antara kota-kota yang saya pilih saat ini, ternyata kota Samarinda di Kalimantan Timur menduduki tempat terendah yaitu kualitas udaranya 34.