Rabu, Maret 25, 2020

Tanggapan Pulse Oxymetri sebagai prediktor kegawatan Covid-19

Berbagai tanggapan yang muncul sehubungan dengan artikel "Pulse oxymetri sebagai prediktor kegawatan Corvid-19",
berikut saya rangkum sbb:


1. A, Guru Besar Ahli Paru
Nilai saturasi yang ditunjukan oleh alat pulse oxymetri memang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti apakah ada anemia dan penyakit paru seperti PPOK dan kondisi lainnya. memang pada Covid 19 ini bila ada pneumonia bisa memburuk dengan cepat. Jika kita mempunyai nilai awal yaitu sebelum sakit, kemudian bila ada gejala dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan secara serial mungkin bisa ada informasi perburukan. Tetapi harus dilakukan penelitian untuk itu berapa sensitifnya pemeriksaan secara serial bisa menentukan ada perburukan sehingga penentuan penyakit bisa tepat. Tubuh punya mekanisme mengatasi hipoksemia yang terjadi, antara lain dengan pergeseran kurva disosiasi oksigen (kurva yang menggambarkan hubungan antara tekanan parsial oksigen dengan saturasi oksigen). Jika perubahan atau penurunan olsigen berlangsung secara lambat, sehingga mekanisme pergeseran kurva disosiasi lebih dulu terjadi, maka tentu sukar melihat penurunan kadar O2 dalam darah (terjadi karena berkurangnya ventilasi, misal pada pneumonia) tidak terlihat pada awalnya. Baru pada saat kelainan sudah luas dan kompensasi tubuh tidak bisa lagi, baru terjadi perburukan saturasi yang notabene keadaan sudah terlambat. Untuk lebih jelasnya, perlu dilakukan penelitian tentang hal itu.

Tanggapan Dr. Erik: Terima kasih Prof atas responsenya. Sehat selalu ya Prof.

2. B, Pimpinan Organisasi Seminat IDI
Dokter Paru, Internist dan Anesthesiologist yang bisa memberi komentar dengan valid. Kalau saya pribadi bis saja sebagai tool tapi serial foto thorax per 3-4hari dengan gangguan batuk, pilek, demam dan saturasi bisa membantu dan bisa dicover BPJS. Bila sudah ditegakkan diagnosisi Covid-19 maka pembiayaan ke Kemenkes. Sekarang ada sejawat yang beberapa hari membaik, sekarang saturasi menjd 92% belum bisa naik dan masih sesak. Kita berdoa agar beliau diberi kesembuhan Allah swt.

Tanggapan Dr Erik: Terima kasih dok atas infonya. Semoga dokter-dokter yang berada di Garda Terdepan saat ini dilindungi oleh Yang Maha Kuasa. Dan semoga masyarakat mau membantu dengan #tetapdirumahsaja



3. C, Dokter Umum di WAG
Bagus kalau punya alat oxymeter 👍. Ide sederhana, murah. Kalau punya, bisa cek sendiri waktu sehat berapa angkanya. Waktu sekarang sakit, berapa turun nya. Tapi kalau sudah turun, biasanya sudah ada gejala sesak nafas. Jadi ini hanya untuk memastikan saja. Tetap ide bagus 👍 👍
Tapi pengalaman di atas tadi menunjukkan, RS yang tidak siap. Entah kalau diberi data saturasi oksigen mereka mau terima atau tidak

Tanggapan Dr. Erik: Terima kasih atas tanggapannya dok. Alat ini digunakan sebagai pegangan untuk masyarakat awam yang self isolation atau ODP / PDP yg belum kebagian tempat tidur di RS. Jadi jika sewaktu-waktu terjadi penurunan nilai saturasi oksigendengan cepat, bisa langsung ke RS. Karena teorinya, penyakit flu biasa sangat jarang terjadi pneumonia kalau pun terjadi perburukan tidak secepat karena infeksi Corvid-19. Memang benar dok, masalahnya kalau pasien memberikan data Saturasi O2, apakah akan digunakan oleh RS. Tapi daripada nggak ngapa2in dan perburukan terjadi tanpa masyarakat bisa monitor, bagaimana? Semoga semakin banyak disosialisasikan hal ini, baik oleh media maupun masyarakat awam. Hitung-hitung sebagai bentuk partisipasi masyarakat awam yang ingin memonitor sendiri dari rumah karena RS sudah penuh.

4. D, Dokter Umum di WAG
Tidak dapat digunakan sebagai prediksi, bisa kecolongan krn tidak keburu dibawa ke RS.

Tanggapan Dr Erik: buktinya ada kasus yang kecolongan juga. Pasien sudah ke RS pusat rujukan dan tidak dirawat krn dianggap pneumonia biasa. Nah sebenarnya saat di rumah pasien rawat jalan ini, bisa menggunakan alat ini.

5. E, masyarakat awam di WAG
Ide yg bisa dicoba utk dibuktikan. 
Jadi tiap org catat baseline normalnya. Dan cek. 
Cuma kalau baru ada gejala batuk apakah sdh signifikan penurunannya ? 

Tanggapan Dr Erik: bukan hanya batuk tapi pneumonia / radang paru. Pada infeksi non Corvid-19, pneumonia nya tidak cepat memburuk. Nah kecepatan perburukan pneumonia ini yang bisa tergambar via alat ukur Saturasi Oksigen / Pulse Oxymetri sehingga bisa menjadi pembeda dengan infeksi non Corvid-19. Pengukuran bisa dilakukan setiap hari di rumah

6. F, pasien di WAG
Harga alatnya akan melambung ini.. dan hilang dipasaran

Tanggapan Dr Erik: kisaran harga pulse oxymetri saat ini Rp. 250.000 - 500.000. Yang berkualitas ada yang harganya jutaan. Mungkin kalau kita beli sekarang (belum terlalu banyak yang tahu), harganya masih normal.

7. G, pasien di WAG
Segala sesuatu yg berhubungan dgn covid 19, harganya jadi melambung dan barangnya langka.

8. H, masyarakat awam di Facebook
Saya ada alat ini di kantor, dan mungkin akan berguna utk detekai sesama karyawan yg tertular corona. Tapi tidak familiar dengan istilah saturasi o2. Maksudnya kondisi yg bagaimana? Makasih
Tanggapan dr Erik: 
Ini untuk orang yang sudah sakit. Perubahan nilai saturasi Oksigen akan terjadi jika pasien sudah alami radang paru / pneumonia. Pada radang paru yang bukan karena CORVID-19, perjalanan penyakitnya lambat. Jadi jika pada orang radang paru yang sudah terjadi perubahan nilai saturasi oksigen, tinggal di monitor per hari, jika dari hari ke hari, menurun dengan cepat, meskipun sudah diobati dengan antibiotika, misalnya. Kemungkinan karena infeksi CORVID-19

Tidak ada komentar:

Zoom Meeting: Digitalisasi di Tempat Praktik era Milenial & Pandemik

TS dokter ysh, mau tidak mau di era pandemik saat ini kita harus berubah. Berubah pola pikir, berubah cara praktik, dll. Tentu dengan tidak ...