Jumat, November 20, 2020

Tanda penumpukan kalsium pasien hemodialisis. Penting dibaca pasien Cuci Darah!!


Salah satu yang harus diwaspadai pasien hemodialisis atau cuci darah adalah penumpukan kalsium di pembuluh darah tubuh termasuk di pembuluh darah jantung. Demikian penjelasan dr Johny, SpPD-KGH, MKes MM., pada acara Round Table Discussion, Jumat 20 November 2020.


Orang-orang yang mengalami kalsifikasi pembuluh darah, risiko kematiannya meningkat. Dari mana tahunya? Apakah secara awam ada tanda-tanda awalnya?


Ada, jelas dr Johny yang berpraktek di RSPAD Gatot Soebroto (RSPAD Gatot Soebroto) Jakarta. Tekanan nadi pasien menjadi lebar lebih dari 60mmHg. Tekanan nadi adalah hasil pengurangan tekanan atas (sistole) dengan tekanan bawah (diastole). Secara standard selisih Sistole dan Diastole adalah 120 - 80 = 40mmHg. Tetapi jika sudah di atas 60mmHg sebaiknya berkonsultasi dengan dokter segera untuk diperiksa lebih lanjut.


Hubungan Calsium, Phosphat dan PTH

Pada pasien-pasien Dialisis, terjadi ketidakseimbangan metabolisme Calcium, Phosphor dan PTH karena itu untuk mencegah komplikasi lebih lanjut, sebaiknya pasien mengontrol kadar 3 zat ini secara periodik, minimal 3 - 6 bulan sekali. Standard kadar Phosphor (phosphor an organic) adalah 3,5 - 5,5 mg/d, sedangkan Calcium 8,4 - 9,5mg. Untuk PTH adalah 150 - 300 mg/mL. 


Lalu bagaimana dengan suplemen pengikat fosfor yang mengandung kalsium, apakah baik untuk dikonsumsi?

Yang paling ideal lanjut dr Johny, carilah suplemen pengikat fosfor yang non calsium jika:

- nilai fosfor darah lebih dari 5,5mg/dL dan

- nilai calcium darah lebih dari 9,5mg


Adakah cara-cara menghindari kelebihan fosfat dok?

  1. Jauhi makanan yang berbumbu dan makanan / minuman awetan: supermie, snack, dll.
  2. Fosfat dari bahan makanan tumbuhan lebih sedikit dari di ikan maupun di daging
  3. Pengeluaran fosfat sukar dikeluarkan lewat hemodialisis biasa (meskipun durasi ditambah), sebaiknya sekali-kali lakukan hemodialisis dengan highflux atau pun HFR, baca RS / Klinik tempat HD Highflux / HFR di: https://s.id/listhfr



Sahabat pejuang Ginjal yang berbahagia

- Fosfat yang paling bagus 3,5 - 5 di darah. terlalu tinggi tidak baik, terlalu rendah juga tidak baik

- Kalsium score / kalsium di arteri coronary makin tinggi makin tidak baik.


KABAR GEMBIRA bagi member KORAN GINJAL

Ada paket pemeriksaan metabolisme tulang, Koran Ginjal bekerjasama dengan Laboratorium ternama di Indonesia, dapatkan pemeriksaan Fosfor Anorganik, Calcium Darah dan PTH dengan harga discount. Voucher discount bisa diperoleh dengan mengirim WA ke: https://WA.me/6285157701658?text=Voucher%20Lab%20tulang . Discount hanya berlaku selama bulan November 2020.



Cara Daftar menjadi member KORAN GINJAL, klik https://s.id/koranginjal























Selasa, November 17, 2020

Dokter dan Digitalisasi Layanan Kesehatan

Logo Rakernas PB IDI 2020
Pernah dengar digitalisasi? Bukan dok, bukan pemberian obat jantung, tapi ini yang lagi trend saat ini. 

Sebaiknya Dokter tidak alergi dengan digitalisasi pelayanan kesehatan. Karena dengan adanya digitalisasi pelayanan tersebut, dokter akan menjalankan praktek dengan semakin efisien dan efektif. Asalkan mau belajar sedikit mengenai digital. Gampang itu, jika ada kesulitan bisa kontak saya, http://WA.me/6285157701658 .


Ini contoh praktis apa yang disebut dengan Digitalisasi Pelayanan Kesehatan. Di bawah ini dokter bisa mengefisienkan dan mengefektifkan layanan kesehatan yang dokter jalankan hanya dengan biaya sekitar Rp. 200.000 / bulan. Dan semuanya itu bisa dilakukan di dalam cloud/awan yang tentunya harus memiliki akses internet. Enaknya dengan aplikasi di awan, dokter tidak perlu menyediakan perangkat apapun, hanya sebatas gadget / handphone yang sudah dimiliki. Dan ini sudah umum terjadi di kalangan bisnis masyarakat luas /  UMKM.


Medical Record Online

Ide ini sudah lama didengung-dengungkan. Saya ingat alm Dr Kartono Mohamad dg SIREM-nya. Namun sampai saat ini secara praktis belum ada aplikasi medrec (setidaknya yang saya ketahui) di awan yg bisa diterima sebagian besar provider kesehatan. Mungkin ada dari berbagai pengembang, tapi kurang mendapat sambutan dari profesi. Yang terjadi saat ini masing-masing pihak menggunakan sistem medical record sendiri-sendiri dengan biaya investasi yang tidak murah. Agar lebih merakyat dan bisa dinikmati oleh lebih banyak user, penulis mengusulkan bagaimana jika dimulai dari BPJS Kesehatan. Lengkapnya usulan penulis, bisa klik ini: https://www.eriktapan.com/2020/11/fahmi-mari-kita-buat-sistem-medical.html


Telekonsultasi

Digitalisasi yang bisa dilakukan saat ini di mana banyak (calon) pasien yang enggan ke Rumah Sakit / Dokter, adalah layanan Konsultasi Kesehatan. Dokter bisa bergabung dengan start up layanan kesehatan yang ada, atau membuat sendiri layanan kesehatan online hanya berdasarkan aplikasi messaging yang sudah ada. Cukup sederhana koq untuk memulai layanan kesehatan online.


CRM Online

CRM atau Customer Relation Management adalah aplikasi untuk me-maintenance pasien-pasien dokter. Dengan aplikasi yang ada sekarang, dokter bisa mengirim WA tanda terima kasih setelah pasien berobat, WA Selamat Ulang Tahun dan Selamat Hari Raya bagi pasien-pasien Dokter secara personal dan otomatis. Aplikasi ini menggunakan cloud juga.


Antri Online

Ada aplikasi online juga yang bisa mengatur pasien-pasien dokter dalam ber-antri. Berbeda dengan aplikasi antri yang selama ini banyak beredar di pasaran ataupun sudah digunakan di berbagai klinik/rumah sakit, aplikasi antri online ini menggunakan WA dan email untuk pemberitahuan sehingga pasien dokter bisa santai dulu di rumah sebelum gilirannya tiba.


Demikian sedikit aplikasi yang bisa dilakukan Dokter untuk mendigitalisasi layanan Dokter. Semoga informasi ini bisa bermanfaat. Yukk kita digitalisasi layanan kesehatan yang kita lakukan.


Dr. Erik Tapan, MHA

Dokter Internet Indonesia

https://eriktapan.com















Sabtu, November 14, 2020

Fahmi: Mari kita buat sistem Medical Record pasien seluruh Rumah Sakit

Prof Fahmi Idris, Dirut BPJS
Dalam acara Pra Rakernas II IDI, Sabtu 14 November 2020, Prof Fahmi Idris, Dirut BPJS Kesehatan menghimbau agar ada kemauan para pemegang kepentingan untuk membuat medical record seluruh pasien rumah sakit dan klinik. 
(videonya bisa lihat di youtube menit ke-3:37 , https://youtu.be/hP0HMnNayFk)

Tentu ajakan yang menarik dan patut kita tindak lanjuti bersama. Namun ada pandangan yang sedikit berbeda dari saya, selaku Dokter Internet Indonesia mengikuti perkembangan Teknologi Informasi akhir-akhir ini.

Bukan tidak setuju, namun dengan pandangan ini jika berhasil diwujudkan akan menjadi lebih cepat terlaksana cita-cita mulia Prof Fahmi dan seluruh pemegang kepentingan tersebut. 

Apa itu?


Pernahkah Bpk/Ibu Dokter melihat Google, Facebook atau Instagram atau Whats App, beriklan?

Lalu kenapa perusahaan IT tersebut menjadi raksasa dan digemari banyak orang?


KUNCINYA / Sistemnya adalah buat dulu, kasih GRATIS dan minta bayar pada fitur-fitur premium.


BPJS Kesehatan dengan jumlah peserta yang sedemikian banyak, pastilah bisa membuat Sistem Informasi / Medical Record berbasis Cloud HANYA dengan peserta-pesertanya saja. Dan ingat, BPJS Kesehatan memiiki hak untuk mengetahui isi Medical Record pasien-pasiennya. Buatlah sistem Medical Record yang aplikatif dan menarik. Tidak perlu dipaksa, provider yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan pasti harus mengadopsi sistem tersebut.


Sistem ini dibagi gratis ke dokter-dokter seluruh Indonesia. Ingat sekarang jamannya cloud / awam.


Usahakan sistem / aplikasi tersebut ringkas dan mudah digunakan. Ini yang penting. Karena jika ribet dan tidak menarik, tidak ada gunanya. Indonesia punya orang-orang IT yang jago dalam hal ini.


Kalau sudah begini, apa perlu memaksa Rumah Sakit / Klinik menggunakannnya?


Menurut pemikiran saya, secara sukarela pasti mereka akan mengadopsi aplikasi ini ASALKAN pengembangnya selalu membuat menarik, tidak mudah hang dan aplikatif.


Bagaimana pendapat Teman Sejawat?


dr. Erik Tapan. MHA

Dokter Internet Indonesia

Moderator Mailinglist Dokter Indonesia

Pendiri Perhimpunan Informatika Kedokteran (PIKIN)


Jumat, November 06, 2020

Zoom Seminar KOWAS 6 November 2020

 




Dalam setiap kesempatan, seseorang itu selalu bergulat dengan minimal 3 pemikiran. Satu pemikiran sadarnya, yang kedua bawah sadarnya dan yang ketiga adalah pengamat. Demikian dijelaskan DR. DR. Adi W Gunawan, ST, MPd,m CCH dalam acara seminar Komunitas Warga Senior (KOWAS) yang diselenggarakan via ZOOM, Jumat, 6 November 2020.


Acara yang disponsori Kalbe Ethical Customer Club (KECC) ini dibuka oleh Ketua KOWAS, Bpk. Indra Gunawan. Sekitar 100 peserta KOWAS mengikuti acara presentasi ini dari awal hingga akhir.




Tanda penumpukan kalsium pasien hemodialisis. Penting dibaca pasien Cuci Darah!!

Salah satu yang harus diwaspadai pasien hemodialisis atau cuci darah adalah penumpukan kalsium di pembuluh darah tubuh termasuk di pembuluh...