Sabtu, Oktober 09, 2021

Layanan Kesehatan, patutkah dipertentangkan antara Charity vs Professional?

Dr Erik saat menjadi Konsultan RS

Pendahuluan

Saat ini banyak RS/Klinik yang dikelola organisasi sosial / misi berada di kondisi yang memprihatinkan. Terus merugi dan pasien menjadi semakin sedikit. Pengurus/pemilik seakan berada di persimpangan jalan. Mau diserahkan pengurusannya ke para profesional takut jika nilai-nilai misinya akan berkurang bahkan hilang.


Tulisan Dr Erik Tapan, MHA seorang Konsultan Perumahsakitan khususnya di bidang digitalisasi, mencoba membeberkan jalan keluarnya untuk bisa diketahui Pemilik RS / Klinik tersebut. Mudah-mudahan bermanfaat.


Latar Belakang

Awalnya memang sebagian besar layanan kesehatan khususnya yang dikerjakan oleh dokter bersifat sosial. Begitu pula dengan Klinik ataupun Rumah Sakit. Tak jarang Organisasi sosial / keagamaan menjadi pengurusnya, selain pemerintah dan militia. Semua bekerja dengan semangat sosial atau keagamaan. Tak pernah memikirkan untung ruginya.


Tetapi dunia makin modern. Karena dianggap menguntungkan maka dibawalah layanan tersebut dalam bidang profesional. Semua dicatat dan dihitung dengan baik. Bahkan dalam pendidikan adminstrasi layanan kesehatan* modern diberitahu tips & trik cara untuk lebih meningkatkan pendapatan mulai dari yang paling halus dan masih diterima etis hingga cara-cara yang agak kasar. 

Sifat pelayanan pun berubah dari sosial menjadi profit oriented. Saat itu kondisi menjadi tidak berimbang karena pasien / konsumen tidak punya pengetahuan setara dengan para dokter yang mestinya masih memiliki sifat sosial.

Lahirlah Asuransi Kesehatan / Third party yang bisa menjembatani hal ini. Pasien tahunya beres. Pengelolaan dana kesehatan dikelola secara efisien dan efektif (sistem JPKM, sekarang BPJS). Bagaimana ceritanya,  ini agak panjang dan bisa jadi topik tersendiri. Ikuti terus tulisan-tulisan kami di media ini.


Pertanyaan krusial, apakah RS / Klinik dengan misi sosial bisa bersifat profesional? 

Jawabannya BISA.


Profesional dalam arti masing-masing stake holder merasa puas. Pasien puas, pegawai dan dokter/nakes pun puas, investor/pemilik pun puas. Ini kalau bisa dikelola secara profesional.


Sebelum membahas caranya, ijinkanlah saya menjelaskan perbedaan profit dan non profit organization. Profit organization jika seluruh keuntungan  (sisa hasil usaha) dibagi ke Pemilik (perseorangan ataupun bersama) sedangkan sosial jika SHU-nya kembali menjadi dana untuk misi sosialnya. Termasuk mendanai pasien-pasien yang kurang mampu. Tetapi harus diingat sistem pencatatan dana ini harus terpisah, jangan dicampur di dalamnya.


Sedangkan sumber dana bisa dibagi dari para investor maupun donasi para penyumbang/umat.


Yang harus diperhatikan di sini:

  1. Operasional RS / Klinik sebaiknya dilakukan secara digital, transparan dan auditable. Jika ada yang melenceng segera diproses.
  2. Jangan karena dalam koridor misi, layanan ke pasien tidak optimal, tidak ada dana untuk pembelian alkes diagnostik baik yang lama / rusak maupun yang baru. Pemberian /terapi / obat hanya setengah kur. Banyak obat yang tidak tersedia di farmasi, banyak pemeriksaan yang tidak bisa dilakukan di layanan kesehatan tersebut, dll.
  3. Para karyawan pun harus dihargai sepantasnya. 


Lalu bagaimana caranya RS yang dikelola misi bisa profesional?


1. Carilah tim yang handal yang mampu mengoperasional layanan kesehatan termasuk mencari donasi dan melaksanakan operasional secara digital, transparan dan accountable. Kalau bisa pimpinan tim adalah seorang dokter / nakes yang berlatar belakang administrasi Rumah Sakit*.


Jika hal ini bisa dilakukan secepat mungkin, maka mudah-mudahan operasional layanan kesehatan bisa berjalan dengan baik kembali. Jika tidak, perlu dipikirkan opsi kedua.


2. Mencari tim external yang mampu melakukan hal di atas dalam periode waktu tertentu. Dan jika sudah sehat bisa dikembalikan ke organisasi sosial/misi asalnya. Tentu ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain, jangan sampai membuat operasional melenceng jauh dari misinya. Artinya misi tetap dijalankan hanya dengan profesionalitas.


Semoga bermanfaat,


*Yang dipelajari dalam bidang Administrasi Rumah Sakit: Keuangan, Marketing, Teknologi Informasi, Management, Design & konstruksi, dll. Saya mempelajari hal ini selama 2 tahun pendidikan formal dan puluhan tahun bekerja di bidang administrasi Rumah Sakit.

Nantikan artikel-artikel berikutnya. Mari kita belajar bersama administrasi Rumah Sakit.


Dr. Erik Tapan, MHA

Like, Subscribe dan share artikel ini jika dirasakan bermanfaat.

Follow Social Media kami. Kesehatan, patutkah dipertentangkan antara Charity vs Profesional?



Tidak ada komentar:

Benarkah Asus marketing bagus tapi kualitas produk & after sales part-nya jelek?

  Benarkah Asus marketing bagus tapi kualitas produk & after sales part-nya jelek? Saya bukan seseorang yang fanatik merk tertentu. Kala...