Rabu, Agustus 10, 2022

Pertama di Indonesia: Periksa Laboratorium Online

 Periksa Laboratorium Online



Tahu dong kalau Dokter Internet senang utak-atik kemajuan teknologi untuk bisa digunakan di bidang kesehatan. Ada info menarik nih. Ternyata sekarang, Laboratorium Klinik Prodia sudah menyediakan fitur permintaan pemeriksaan laboratorium (atas rujukan dokter) melalui aplikasi.

Hanya perlu menginformasikan: nama, jenis kelamin, tgl lahir, alamat email serta keluhan / rencana pemeriksaan. Setelah itu pasien akan di-email seperti yg ada di akhir video dengan no kode khusus (kodenya dihapus diganti dengan no WA Dokter Internet) yang bisa ditunjukkan ke Customer Services (petugas) Laboratorium Prodia terdekat. 

Ada yg berminat? 

Segera kirim WA dg data di atas ke: https://WA.me/6285172151109


Semoga bermanfaat. 

Nikmati pengalaman baru periksa Laboratorium. 

Dr. Erik Tapan, MHA

Dokter Internet Indonesia


Pertanyaan yang sering ditanyakan:

1. Tetap harus ke Prodia ya? 

Jawab: iya untuk pengambilan darah / specimennya.


2.  Apakah peneriksaan Laboratorium tersebut ditanggung BPJS Kesehatan? 

Jawab: Sepengetahuan Dokter Internet, belum ditanggung. 


3. Periksa lab nya yg rutin aja atau sampe yg spesifik dok?

Jawab: sesuai dengan kompetensi Dokter pemberi rujukan. Karena ybs yang berkewajiban menjelaskan ke pasiennya. 


4. Saya koq nggak pernah menggunakan Surat Rujukan Dokter, hanya ditanya nama dokternya saja? 

Jawab: memang kadang-kadang pihak Laboratorium memberi privilege. Terutama kalau pasiennya sudah senior atau langganan, tapi jawaban pihak Prodia, "Seharusnya ada pengantar dokter  atau hasil chat di aplikasi Prodia".


Nah, dengan adanya kemudahan ini,, pihak Prodia terus memperbaiki diri mengikuti aturan yang berlaku. Mari kita dukung. 


#laboratoriun #nonBPJS #prodia #rujukan #online

Jumat, Agustus 05, 2022

Suplemen pengikat fosfat yang ideal

 Suplemen pengikat fosfat yang ideal

Perbandingan Kandungan Kalsium di antara binder fosfat di Indonesia

Untuk saat ini bisa dikatakan binder fosfat yang paling ideal adalah yang tidak mengandung kalsium, seperti: Renvela / Fosbin maupun Fosrenol. 

Itu sdh mutlak. Semua pasti setuju. 

Namun kenyataan di lapangan tidak semua pasien sanggup membeli suplemen tersebut, apalagi jika tidak menggunakan BPJS. 

Kalau pada kondisi seperti ini, dan saat level kalsium darah pasien rendah / normal, manakah fosfat binder yang mengandung kalsium yang paling baik. Ternyata selain mencari binder fosfat yang non kalsium, para ahli juga mengembangkan binder fosfat yang mengandung kalsium. Terus diperkecil kadar kalsiumnya tapi tidak mengabaikan malah bisa meningkatkan efektifitas pengikatan fosfatnya. Tentu ini menjadi lebih efisien.


Berikut tabelnya berdasarkan riset penulis, seperti bisa dilihat di atas.


Prinsip yang penulis pakai, makin kecil kandungan kalsium, makin baik. Kebutuhan kalsium berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) orang Indonesia adalah 1.100 mg/hari untuk orang dewasa normal. 


Pertanyaan yang muncul, kenapa sih Calcium Acetate mesti dikombinasi dengan Magnesium? Bikin repot aja. Benar tidak? 

Ini jawabannya:

Ternyata kombinasi Calcium (dalam hal ini Calsoum Acetate yang lebih baik dari Calsium Carbonate), ada maksudnya. Bukan supaya Magnesiun jadi laku, pastinya. Tapi memang sudah berdasarkan penelitian. Ternyata penambahan dosis kecil Magnesium bisa bermanfaat untuk meningkatkan efek daya ikat fosfat maupun mengurangi efek kalsifikasi pembuluh darah dan jantung. Daya ikat fosfat kombinasi CaMg ternyata bisa disamakan dengan suplemen pengikat fosfat yang non kalsium seperti Sevelamer Carbonate. Bayangkan konsumsi suplemen pengikat fosfat seharga yang menganding kalsium tapi memperoleh manfaat seperti yang non kalsium. 

Sudah banyak penelitiannya *, antara lain bisa dibaca di sini:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2957591/

(artikel lainnya, bisa di-google dg kata kunci, "calcium magnesium combination for dialysis patients".) 


*logika saja, tidak mungkin suplemen (yang baru diperkenalkan di Indonesia) ini dijual di luar negeri kalau tidak ada yang membutuhkannya. Di Indonesia baru mulai diperkenalkan. 

Yang penting sesuaikanlah dengan situasi dan kondisi masing-masing. 

Anda yang paling tahu tentunya. Pilihan terserah Anda, mau ngotot dengan suplemen berkalsium tinggi kalau belum bisa membeli yang non kalisum?


Cara membaca tabel:

Kebutuhan kalsium pada orang dewasa menurut AKG (Angka Kecukupan Gizi) adalah 1.100 mg / hari.  Konsumsi lebih dari itu berisiko menumpuk dan menyebabkan kalsifikasi. 

1. Suplemen pertama, CaCO3 yang kadar Ca Carbonate-nya 1.250mg. Itu setara dengan kadar kalsium 500 mg

2. Suplemen kedua,  (CH3COO)2 yang kadar Calsium Acetate-nya 667mg atau setara dengan 169mg kalsium

3. Suplemen ketiga, kadar Calsium Acetate-nya hanya 435mg atau setara dengan 110 mg kalsium. 

Itulah sebabnya, suplemen pertama maksimal hanya bisa diminum 2x sehari yang kurang cocok digunakan bagi pasien yang makan 3x.


DISCLAIMER

Binder Fosfat hanya diperlukan saat kadar fosfat darah pasien melebihi normal. Dan ini tergantung pola makan. Jadi tidak semua pasien ginjal perlu Binder Fosfat.


Artikel lain:

1. Pentingnya Menggunakan Suplemen Pengikat Fosfat / Binder Fosfat, https://www.eriktapan.com/2022/01/pentingnya-menggunakan-suplemen.html

2. Lenal Ace, sudah stop impor, apa penggantinya, https://www.eriktapan.com/2022/08/sudahkah-indonesia-di-ambang-krisis.html

3. Suplemen Pengikat Fosfat yang ideal, https://www.eriktapan.com/2022/08/suplemen-pengikat-fosfat-yang-ideal.html


Sudahkah Indonesia di ambang krisis obat impor? Ini tips antisipasinya

 Sudahkah Indonesia di ambang krisis obat impor? Ini tips antisipasinya

Kebijakan pemerintah untuk menggalakkan produksi dalam negeri (TKDN) ternyata berimbas juga ke sektor kesehatan, khususnya obat-obatan impor. 

Contohnya di kalangan pasien ginjal ada suplemen pengikat fosfat, Calsium Acetate. Suplemen yang diimpor dalam bentuk jadi tersebut (mungkin bisa dianalogikan dengan CBU di bidang otomotif) Lenal Ace, saat ini sdh tidak diimpor lagi. Tidak ada alasan resminya, tapi sudah sangat sukar memperolehnya. 

Akibatnya, pasien-pasien ginjal yang memerlukan suplemen pengikat fosfat yang berkualitas tetapi relatif ekonomis menjadi kelimpungan. Mereka harus beralih ke preparat suplemen yang generasi sebelumnya. Di mana daya ikat fosfatnya tidak sebaik Calcium Acetate, atau menggunakan preparat non calcium yang tidak ekonomis lagi. 


Contoh yang lain, terdengar kabar, salah satu perusahaan farmasi dunia melakukan kerja sama dengan farmasi Indonesia untuk cabangnya di Indonesia. Apalagi kalau tidak ingin mempertahankan pangsa pasar obat-obatannya yang kemungkinan akan segera diproduksi di pabrik Indonesia. 


Tips Antisipasinya

Lalu bagainana pasien-pasien khususnya yang rutin konsumsi obat impor, mengantisipasinya? 

Berikut beberapa tipsnya:

Yang pertama harus dilakukan adalah mengecek obat rutin yang Anda konsumsi, apakah impor atau tidak. Jika ada yang masih impor bisa lakukan (sesuai situasi, kondisi dan kemampuan) hal-hal berikut ini:


1. Segera stok obat-ibatan tersebut sebelum menghilang dari pasar (resmi). Jangan lupa memperhatikan jumlah kebutuhan dan expired datenya. 


2.  Mulai mencari produk sejenis yang diproduksi oleh farmasi Indonesia. Jenis obat namanya Me Too. Info mengenai hal ini akan dijelaskan pada tulisan berikutnya. Silakan ikuti terus. 


3. Speak Up / bersuara

Kalau bisa buat heboh. Dengan teknologi saat ini, sangat mudah menyuarakan kebutuhan pasien di berbagai social media, Facebook, Twitter, Instagram, Tiktok, dll. 

Adakah manfaatnya? 

Seperti diketahui, perusahaan farmasi itu memiliki bagian riset. Jadi jika banyak yang bersuara, tentu bisa dimonitor oleh perusahaan farmasi dan tertarik untuk segera memproduksinya. 


Sekian informasinya. Semoga bermanfaat. 

Tulisan berikutnya, jenis-jenis obat: originator, patent, generik, me too, dll.  Dan bagaimana kualitasnya? 



Erik Tapan, dokter bukan Pesulap Merah

Berbeda dengan Pesulap Merah, kami berusaha memberi info2 yang jarang diketahui orang (bukan rahasia hanya jarang diekspise) dari industri kesehatan / farmasi, untuk tujuan edukasi.


Artikel lain:

1. Pentingnya Menggunakan Suplemen Pengikat Fosfat / Binder Fosfat, https://www.eriktapan.com/2022/01/pentingnya-menggunakan-suplemen.html

2. Lenal Ace, sudah stop impor, apa penggantinya, https://www.eriktapan.com/2022/08/sudahkah-indonesia-di-ambang-krisis.html

3. Suplemen Pengikat Fosfat yang ideal, https://www.eriktapan.com/2022/08/suplemen-pengikat-fosfat-yang-ideal.html


Selasa, Agustus 02, 2022

In Memoriam Kris Biantoro cuci darah 38 tahun, mitos atau fakta?

Kris Biantoro cuci darah 38 tahun

"Kata siapa pasien cuci darah tidak bisa bertahan lama, bisa lihat Pak Kris Biantoro, yang melakukan cuci darah selama 38 tahun," begitu saya mendengar pemaparan salah satu nara sumber pada acara komunitas pasien ginjal. 

Benarkah demikian? 

Mari kita telusuri lebih lanjut. 

Namun ijinkanlah saya melakukan disclaimer terlebih dahulu maksud tulisan saya ini. 

Pertama, memang benar pasien cuci darah bisa hidup lama. Dan yang kedua, info ini bukan bermaksud mengecilkan peran Kris Biantoro yang kita tahu semua, dia adalah salah satu pasien ginjal yang sangat getol meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap penyakit ginjal. Kami sendiri pun, pernah mengangkat beliau menjadi Brand Ambassador Komunitas Pasien Ginjal. Jadi tidak perlu diragukan lagi peran beliau. 

Menurut info dari internet, Kris Biantoro lahir pada tanggal 17 Maret 1938. Beliau meninggal pada usia 75 tahun, 13 Agustus 2013.

Dari buku yg ditulis pada tahun 2011, terdapat info bahwa pada tahun 2007, beliau berusaha untuk melakukan operasi cangkok ginjal di Tiongkok tapi sayangnya tidak berhasil. 

Akhirnya pada tahun 2010, beliau baru mau melakukan Terapi Pengganti Ginjal alias Cuci Darah. 

Selama ini, 38 tahun lebih, beliau melakukan perawatan konvensional yang didampingi istri tercinta, orang Vietnam. 

Beliau pernah menulis buku dengan judul, " Belum Selesai " dengan sub judul, "Kisah 38 Tahun Perjuangan Pendekar Ginjal Soak”


Buku tersebut dijual ke perusahan2 yang seluruh hasil penjualannya disumbangjan ke Komunitas Pasien Ginjal. 


Selamat jalan, sahabatku, Pak Kris Biantoro. Semangat mu kan kukenang. 




Referensi:

https://www.eriktapan.com/2011/04/review-buku-kris-biantoro-belum-selesai.html?m=1

Pertama di Indonesia: Periksa Laboratorium Online

  Periksa Laboratorium Online Tahu dong kalau Dokter Internet senang utak-atik kemajuan teknologi untuk bisa digunakan di bidang kesehatan. ...