Jumat, Oktober 22, 2021

Benarkah Asus marketing bagus tapi kualitas produk & after sales part-nya jelek?

 Benarkah Asus marketing bagus tapi kualitas produk & after sales part-nya jelek?

Asus Chromebook sering mati total

Saya bukan seseorang yang fanatik merk tertentu. Kalau perlu sesuatu ya memilih brand yang teringat waktu itu dan lihat review-review ala kadarnya. Apalagi kalau produk baru, belum banyak yang me-review.

Berikut pengalaman pribadi saya dalam membeli produk dengan Brand Asus.


Produk yang terakhir saya beli adalah Chromebook Asus. Saat mau digunakan Chromebook-nya mati total. Minta ganti dong ke seller-nya. Lalu diganti unit baru. Eh baru 2 bulan dipake dan makenya juga jarang2, kembali mati total.

Masalahnya ini perangkat untuk istri yang nggak mau tahu, yang keluar ucapan "Koq ngasih ke istri barang jelek begini?"


Dengan terpaksa berangkatlah saya jauh-jauh ke Mangga Dua. Saya baru ingat ada beberapa perangkat Asus yang saya beli:

  1. Handphone, sudah berkali-kali diperbaiki dg harga ratusan ribu rupiah. Ini koq ngerepotin banget ya.
  2. Tablet EEPad, rusak saat saya copy file, yang setelah dibawa ke Service Center sudah tidak bisa diperbaiki lagi karena sudah tidak diproduksi spare part-nya lagi.


Dari pengalaman pribadi saya, bisa disimpulkan dari sisi Marketing brand Asus memang jempolan (sehingga membuat saya memilih berkali-kali), tapi sayang kualitas produk dan after sales-nya tidak mendukung, khususnya pada kasus saya.

Saya hanya menceritakan apa yang saya alami, kesimpulannya, terserah Anda.

Pengen tahu apa solusi Asus atas complain ini.


Rabu, Oktober 20, 2021

Survei Adekuasi Dialisis pada pasien hemodialisis cuci darah

Dialiser Highflux
Survei Adekuasi Dialisis pada pasien hemodialisis

Salah satu hal yang perlu diperhatikan pada pasien Hemodialisis atau cuci darah adalah adekuasi dialisis. Adekuasi Dialisa artinya proses cuci darah bisa tercapai target dan meminimalkan risiko komplikasi jangka panjang, selera makan menjadi lebih baik serta kualitas hidup pasien membaik.

Adekuasi Dialisis bisa tercapai dengan: makan yang baik serta proses cuci darah yang baik.

Salah satu hal yang paling mudah mengukur adekuasi dialisis adalah dengan mempergunakan mesin dialisis. Mintlah perawat untuk mengkur nilai kt/v Anda.

Standardnya adalah 1,4 bagi yang HD 3x seminggu dan 1,8 bagi yang 2x seminggu.


Setelah mengetahui nilai KT/V Anda, isilah kuisioner di bawah ini.


Cara lain adalah dengan memeriksan Ureum & Kreatinin sebelum dan sesudah HD. Mintalah hal ini kepada dokter Anda. 


Koran Ginjal, Klinik Kecantikan L'Melia, Laboratorium Klinik Prodia dan Klinik Hemodialisis Rena Medika mengadakan survei adekuasi dialisis yang bertujuan menjawab pertanyaan:

  • Apakah penggunaan dialiser single use dan re-use berpengaruh? 
  • Berapa kali sebaiknya dialiser itu di re-use?
  • dll


Silakan mengisi survei di bawah ni, khusus  pasien hemodiaslisis atau cuci darah,

https://s.id/surveidialisis


Atas perhatian diucapkan banyak terima kasih.


Bagi yang beruntung, terpilih memperoleh voucher discount pemeriksaan laboratorium Prodia dan voucher @Rp. 400.000/bln maksimal 2 pasien per bulan hingga Desember 2021 dari Klinik Rena Medika


Mengenai Survei
Periode Survei: sampai dengan 31 Desember 2021
Peserta: Pasien hemodialisis yang sudah mengetahui KT/Vnya

Hadiah:
  1. 2 (dua) botol L'Melia Handbody Lotion, lotion pelembab pertama dan satu-satunya untuk pasien HD, senilai Rp. 160.000 / btl
  2. Voucher Discount dari Laboratorium Klinik Prodia
  3. Voucher Discount @Rp. 400.000 / pasien /bulan dari Klinik Hemodialisa Rena Medika, sejumlah 4 pasien.
Keputusan yuri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat

Sponsor: 
  1. Klinik Kecantikan L'Melia, produsen lotion pelembab HD, pertama & satu-satunya
  2. Laboratorium Klinik Prodia, Laboratorium Kesehatan Klinik Terbaik dan Terbesar
  3. Klinik Hemodialisis Rena Medika, menggunakan dialiser Highflux dan bisa mengukur KT/V

Info selanjutnya hasil survei dan mereka yang beruntung, bisa diperoleh dengan mendaftar mengikuti Koran Ginjal, klik https://s.id/koranginjal .















Sabtu, Oktober 16, 2021

GRATIS wanita lajang berminat jadi beautician professional

 GRATIS wanita lajang berminat jadi beautician professional


Seorang Chef hotel Bintang 5 ngedumel. Pasalnya sekarang ini, orang dengan sangat mudah menjuluki seseorang sebagai seorang Chef atau koki. Asal bisa masak, syukur-syukur punya resto sendiri atau rajin tampil di sosmed, dijulukilah ybs sebagai Chef. Padahal menurutnya , profesi Chef tidaklah semudah itu.

Begitu pula dengan profesi beautician. Asalkan sdh bekerja di salon / klinik dan tahu sedikit merawat kecantikan, orang-orang sudah bisa memanggilnya sang Beautician. Lebih parah lagi dari seorang SPG yg bertugas di produk kecantikan,  dengan pelatihan seadanya, jadilah profesi mereka menjadi seorang Beautician.

Padahal menurut Dr Lalan Melia Dipl. CIDESCO, pendidikan beautician itu tidaklah semudah itu. Untuk menjadi Beautician Professional seseorang harus melalui tahap pelatihan dan bekerja dalam periode waktu tertentu. Dan ada ujian yang bisa diikuti agar bisa memperoleh Sertifikat Kompetensi Beautician yang diakui negara.

Anda tertarik menjadi Beautician Professional? Kebetulan Dr Lalan membuka kesempatan untuk magang di Klinik beliau, segera siapkan CV  dan berkas Lamaran Anda, klik:

https://id.indeed.com/m/viewjob?jk=dccc443d68014101&from=native


Semoga bermanfaat.

Please share kesempatan langkah ini. Sangat bermanfaat bagi yang membutuhkannya.

Selasa, Oktober 12, 2021

Mengintip Biografi dr Boenjamin Setiawan acara KOWAS

 

Siapa tidak kenal dengan dr Boenjamin Setiawan (a.k.a Dr Boen), pemilik perusahaan farmasi dan makanan kesehatan terbesar di Asia Tenggara (yang melantai di bursa).


Peluncuran biografi Dr Boen telah dilakukan secara megah dan mengesankan pada 18 Januari 2020 di hotel Mulia Senaya Jakarta.. Sejumlah tokoh masyarakat nasional dan internasional hadir, bahkan beberapa memberi sambutan seperti Prof Dr Soo Khee Chee (National Cancer Centre Singapore), Prof Emil Salim, Prof Kadarsyah (rektor ITB), Budi Gunadi Sadikin, Penny Lukito .

Emil Salim merangkum Dr Boen sebagai: "Manusia intelektual, Manusia entrepreneurial dan Manusia futuristik”.


Sekalipun sudah pernah dibedah di muka publik, namun kiranya biografi Dr Boen itu masih tetap inspiratif dan penuh makna untuk dibahas di forum Komunitas Warga Senior (Kowas). Pembedahan kali ini verbena karena diulas oleh orang-orang dekat beliau.


Segera dafter di acara Temu webinar Kowas, pada:

Hari/tanggal: Sabtu, 23 Oktober 2021

Mulai pkl. 14:00 WIB

Acara ini akan mengulas buku biografi Dr Boen tersebut. Tiga kawan Dr Boen dari Kowas yang telah mengenalnya selama puluhan tahun akan menjadi narasumber.

Mereka adalah: dr Erik Tapan, Pak Tossin Himawan dan  Pak Indra Gunawan. Sementara sebagai moderator bertindak Pak Teddy Iman,seorang eksekutif senior di Kalbe Farma group.

Penfaftaran: https://WA.me/6285711412777 

Minggu, Oktober 10, 2021

Keren acara peluncuran Digihealth

 

Dr Dharmawan ttg Etika Dokter saat Telemedicine

Mengikuti acara Digihealth mengingatkan penulis saat mengikuti acara-acara Informatika Kesehatan baik di Asia maupun di Eropah hingga di FK Atmajaya Jakarta. Tak heran penggagas acara ini Dr. Gregorius Bimantoro (alias dr Bimo) yang penulis kenal sejak saat ybs kuliah di FK Atmajaya dan gencar melaksanakan acara-acara Informatika Kesehatan.


Acara yang dilangsungkan Minggu 10 Oktober 2021 ini diberi tajuk:

"Sosialisasi Platform Digihealth: Digitalisasi Tenaga Kesehatan dan Webinar Strategi Tenaga Kesehatan Menghadapi Stress di masa Pandemi"



Pembicaranyapun membawakan presentasi  tak kalah menarik, yaitu melaporkan apa yang telah dikerjakan tim mereka di bidang Informatika Kesehatan seperti:


  1. Bidan Erna Shinta S.Tr.Keb dengan aplikasi Sehati yang bisa membantu ibu-ibu hamil sehingga para bidan bisa mengurangi angka morbiditas dan mortalitas selama proses hamil dan melahirkan.
  2. Ns. La Ode Abd Rahman S.Kep,MBA dari FIK UI, menjelaskan dan demo mengenai penggunaan Virtual Realty dalam pendidikan keperawatan.


juga tampil, Dr. Vincentius Simeon Weo Budhyanto (AHI) yang menjelaskan aplikasi-aplikasi dalam menjaga kesehatan masyarakat sehari-hari.


Tak terasa sesi pertama selesai. Sesi kedua dimulai dg presentasi  Dr Dharmawan A. Purnawan SpKJ, Ketua IDI Cabang Jakarta Utara, mengenai Etika Dasar bagi Dokter, terutama dalam bidang telemedicine. Kemudian dilanjutkan dengan presentasi Dr. Gina Anindyajati Sp.KJ (PP PDSKJI) mengenai Depresi tenaga kesehatan di era pandemik.


Akhir kata penulis mengucapkan banyak selamat kepada Dr Bimo dan tim atas terselenggaramya acara informatika kesehatan yang informatif dan inspiratif ini. Semoga dunia informatika kesehatan semakin berkembang di Indonesia. Maju berkembang bersama Digihealth.




Mengikiti acara informatika kesehatan


Acara STROMA FK Atmajaya,

https://www.eriktapan.com/2008/03/stroma-kampus-atma-jaya-semanggi.html


Acara di Universitas Gunadarma,

https://www.eriktapan.com/2008/08/apa-itu-informatika-kedokteran.html


Acara di Eropah,
https://www.eriktapan.com/2007/10/e-health-memudahkan-pasien.html

https://www.eriktapan.com/2007/10/bila-saatnya-tiba-konsultasi-kesehatan.html https://www.eriktapan.com/2007/10/hari-3-acara-konferensi-mednet-2007.html


Acara di Semaranag

https://www.eriktapan.com/2006/12/presentasi-informatika-kedokteran-di.html


Acara di Taiwan,

https://www.eriktapan.com/2006/10/manfaat-dokter-yang-rajin-akses.html


Acara di Jakarta,

https://www.eriktapan.com/2006/05/seminar-telemedicine-2006-aula-fkui.html


Cerita lainnya:

https://www.eriktapan.com/2019/08/dokter-internet-dan-akhirnya-mimpi-itu.html


Sabtu, Oktober 09, 2021

Layanan Kesehatan, patutkah dipertentangkan antara Charity vs Professional?

Dr Erik saat menjadi Konsultan RS

Pendahuluan

Saat ini banyak RS/Klinik yang dikelola organisasi sosial / misi berada di kondisi yang memprihatinkan. Terus merugi dan pasien menjadi semakin sedikit. Pengurus/pemilik seakan berada di persimpangan jalan. Mau diserahkan pengurusannya ke para profesional takut jika nilai-nilai misinya akan berkurang bahkan hilang.


Tulisan Dr Erik Tapan, MHA seorang Konsultan Perumahsakitan khususnya di bidang digitalisasi, mencoba membeberkan jalan keluarnya untuk bisa diketahui Pemilik RS / Klinik tersebut. Mudah-mudahan bermanfaat.


Latar Belakang

Awalnya memang sebagian besar layanan kesehatan khususnya yang dikerjakan oleh dokter bersifat sosial. Begitu pula dengan Klinik ataupun Rumah Sakit. Tak jarang Organisasi sosial / keagamaan menjadi pengurusnya, selain pemerintah dan militia. Semua bekerja dengan semangat sosial atau keagamaan. Tak pernah memikirkan untung ruginya.


Tetapi dunia makin modern. Karena dianggap menguntungkan maka dibawalah layanan tersebut dalam bidang profesional. Semua dicatat dan dihitung dengan baik. Bahkan dalam pendidikan adminstrasi layanan kesehatan* modern diberitahu tips & trik cara untuk lebih meningkatkan pendapatan mulai dari yang paling halus dan masih diterima etis hingga cara-cara yang agak kasar. 

Sifat pelayanan pun berubah dari sosial menjadi profit oriented. Saat itu kondisi menjadi tidak berimbang karena pasien / konsumen tidak punya pengetahuan setara dengan para dokter yang mestinya masih memiliki sifat sosial.

Lahirlah Asuransi Kesehatan / Third party yang bisa menjembatani hal ini. Pasien tahunya beres. Pengelolaan dana kesehatan dikelola secara efisien dan efektif (sistem JPKM, sekarang BPJS). Bagaimana ceritanya,  ini agak panjang dan bisa jadi topik tersendiri. Ikuti terus tulisan-tulisan kami di media ini.


Pertanyaan krusial, apakah RS / Klinik dengan misi sosial bisa bersifat profesional? 

Jawabannya BISA.


Profesional dalam arti masing-masing stake holder merasa puas. Pasien puas, pegawai dan dokter/nakes pun puas, investor/pemilik pun puas. Ini kalau bisa dikelola secara profesional.


Sebelum membahas caranya, ijinkanlah saya menjelaskan perbedaan profit dan non profit organization. Profit organization jika seluruh keuntungan  (sisa hasil usaha) dibagi ke Pemilik (perseorangan ataupun bersama) sedangkan sosial jika SHU-nya kembali menjadi dana untuk misi sosialnya. Termasuk mendanai pasien-pasien yang kurang mampu. Tetapi harus diingat sistem pencatatan dana ini harus terpisah, jangan dicampur di dalamnya.


Sedangkan sumber dana bisa dibagi dari para investor maupun donasi para penyumbang/umat.


Yang harus diperhatikan di sini:

  1. Operasional RS / Klinik sebaiknya dilakukan secara digital, transparan dan auditable. Jika ada yang melenceng segera diproses.
  2. Jangan karena dalam koridor misi, layanan ke pasien tidak optimal, tidak ada dana untuk pembelian alkes diagnostik baik yang lama / rusak maupun yang baru. Pemberian /terapi / obat hanya setengah kur. Banyak obat yang tidak tersedia di farmasi, banyak pemeriksaan yang tidak bisa dilakukan di layanan kesehatan tersebut, dll.
  3. Para karyawan pun harus dihargai sepantasnya. 


Lalu bagaimana caranya RS yang dikelola misi bisa profesional?


1. Carilah tim yang handal yang mampu mengoperasional layanan kesehatan termasuk mencari donasi dan melaksanakan operasional secara digital, transparan dan accountable. Kalau bisa pimpinan tim adalah seorang dokter / nakes yang berlatar belakang administrasi Rumah Sakit*.


Jika hal ini bisa dilakukan secepat mungkin, maka mudah-mudahan operasional layanan kesehatan bisa berjalan dengan baik kembali. Jika tidak, perlu dipikirkan opsi kedua.


2. Mencari tim external yang mampu melakukan hal di atas dalam periode waktu tertentu. Dan jika sudah sehat bisa dikembalikan ke organisasi sosial/misi asalnya. Tentu ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain, jangan sampai membuat operasional melenceng jauh dari misinya. Artinya misi tetap dijalankan hanya dengan profesionalitas.


Semoga bermanfaat,


*Yang dipelajari dalam bidang Administrasi Rumah Sakit: Keuangan, Marketing, Teknologi Informasi, Management, Design & konstruksi, dll. Saya mempelajari hal ini selama 2 tahun pendidikan formal dan puluhan tahun bekerja di bidang administrasi Rumah Sakit.

Nantikan artikel-artikel berikutnya. Mari kita belajar bersama administrasi Rumah Sakit.


Dr. Erik Tapan, MHA

Like, Subscribe dan share artikel ini jika dirasakan bermanfaat.

Follow Social Media kami. Kesehatan, patutkah dipertentangkan antara Charity vs Profesional?



Sabtu, September 25, 2021

Rahasia Berjalan Alami Seminar Ibu Okky



Ternyata banyak penyakit yang disebabkan oleh (secara tak sadar) cara berjalan kita yang belum benar. Dari mana tahunya? Karena setelah mengikuti Workshop Rahasia Berjalan Alamiah yang dimentori oleh Ibu  Idayanti Sudiro, banyak peserta yang mengalami  berbagai kesembuhan. Kali ini Ibu Okky berbaik hati bersedia membagi ilmunya kepada Anggota Komunitas Warga Senior (KOWAS). Semoga kita semua menjadi lebih sehat. Jangan sampai ketinggalan menimba ilmu yang unik dan bermanfaat ini di acara KOWAS : 

Rabu, 29 September 2021, pkl. 14.00 - 16.00 WIB. 

Pendaftaran klik https://bit.ly/MengubahCaraBerjalan


Videonya: 

https://youtu.be/aJ70arcLbaY (dibawakan oleh Pak Irman) 

https://youtu.be/QzSWOvz1UV0 (dibawakan Ibu Okky)




Benarkah Asus marketing bagus tapi kualitas produk & after sales part-nya jelek?

  Benarkah Asus marketing bagus tapi kualitas produk & after sales part-nya jelek? Saya bukan seseorang yang fanatik merk tertentu. Kala...