IdBlogNetwork

Alamat terkini IDI Cabang Jakarta Pusat

Berbekal pengalaman betapa susahnya mencari alamat IDI Jakarta Pusat di internet, mudah-mudahan informasi ini bisa bermanfaat bagi Dokter atau siapapun yang membutuhkannya.

Awalnya IDI Cabang Jakarta Pusat berkantor di:
    Jl. Cempaka Putih Barat III/17c
    Jakarta, Indonesia 10520

Tapi ternyata sudah pindah ke:
    Jl. Kesehatan No. 10
    Tanah Abang   
    Jakarta Pusat

NAMUN, mulai Januari 2015 pindah ke:

Perkantoran Apartment Menteng Square
Jl. Matraman no. 30E
Tower B, lantai 3 no. 41
Jakarta Pusat 13210
No Telp.: 021-29614371
Jam Kerja: Senin - Jumat pkl.09:00 - 16:00 WIB



Ini petanya:

Kerja itu Main tapi bukan main-main!!

Punya kisah menarik, bagaimana Anda mencintai pekerjaan Anda ?


Baca kisah saya di: http://kerjaitumain.com/gallery/detail/mendokterkan-internet-dan-menginternetkan-dokter tentang bagaimana Mendokterkan Internet dan Menginternetkan Dokter.

Bagaimana pendapat Anda?


FGD Kompas: Pola Konsumsi Media Digital

Menggunakan Sensor Bola Mata
Sabtu, 23 Mei 2015 kami diundang oleh pihak Kompas dalam rangka Focus Group Discussion (FGD) Pola Konsumsi Media Digital. Meskipun baik kami maupun tuan rumah semuanya tidak pernah ketemu sebelumnya namun berkat kelihaian (keramatahan, dll.) pihak tuan rumah, diskusi pun berlangsung seru namun hangat. Tak terasa hampir 3 jam kami berdiskusi yang dipandu oleh Ibu Theresia.

Dengan lincahnya Ibu Theresia melemparkan pertanyaan ke kita-kita, yang sayangnya setiap kali ditanya balik, sang Ibu hanya melempar senyum tanpa ada jawabannya (ha…ha…ha… fungsi moderator FGD mesti begitu ‘kali  :)).

Dari pertemuan kemarin saya menemukan fakta yang menarik yang mungkin belum banyak yang mengetahui, yaitu mengenai produk-produk digital dari Harian Kompas, selain Kompas yang dicetak secara fisik.

Mohon maaf kalau penggambarannya masih kurang tepat karena kami memang tidak dibagi catatannya karena acara ini khan bukan pers conference :)

1. Kompas.com (http://www.kompas.com)

Kompas dot com adalah website/situs yang menyanyikan informasi yang up to date namun isi beritanya tidak terlalu dalam. Kecepatan pembuatan berita menjadi prioritas dan seandainya ada hal yang perlu ditambahkan, dibuat dalam berita lain lagi. Oleh sebab itu dalam membaca berita di kompas.com, tidak jarang kita harus mengklik lebih dari satu berita untuk topik yang sama.


Pertemuan KE-33 Komunitas Warga Senior: Belajar membuat keramik

Testimoni Pengunjung
Rumah Keramik
Untuk yang ke-33 kalinya, Komunitas Warga Senior (KOWAS) akan menyelenggarakan pertemuannya. Kali ini akan diadakan di rumah Keramik Bpk. F. Widayanto di Tanah Baru Depok.

Rencananya siapa yang tertarik untuk belajar keramik bisa berkumpul pada:

  • Hari/tanggal:  Sabtu, 23 Mei 2015
  • Berangkat pkl. 08:00 WIB, diperkirakan sudah kembali pkl. 16:00 WIB.
  • Alamat pertemuan:  Gedung Kalbe, Jl. Letjend Soeprapto kav. 4, Jakarta Pusat
  • Biaya Rp. 205.000:
    • GRATIS (dengan menunjukkan member card KOWAS yang masih berlaku)
    • Harga khusus: Rp. 150.000 (dengan menyebutkan mengetahui dari Blog dr Erik, tempat terbatas)


Tempat terbatas, segera hubungi bagian pendaftaran: 021-42873888 ext.1930 (sen-jum, pk 08.00 - 14.00), 08121307838 (Lastrie). Untuk registrasi ulang membercard KOWAS hanya Rp. 350.000/tahun (free mengikuti semua aktifitas KOWAS),- atau Non Member yg ingin ikut wisata keramik dapat menstransfer ke rekening KOWAS a.n Janti Atmojo atau a.n atau Erik Tapan, Bank BCA, 7060397826. Terima kasih.

Daftar aktifitas KOWAS

BPOM akan mengawal layanan dan industri Sel Punca

Tampak Ketua BPOM bersama Ketua Konsorsium Sel Punca
Bertempat di Kantor Badan Pengawas Obat dan Makanan Jakarta Pusat, Selasa 7 April 2015 telah diadakan pertemuan antara BPOM dengan Konsorsium Sel Punca Indonesia. 

“BPOM akan selalu mengawal penelitian dan pengembangan industri Sel Punca di Indonesia”, demikian dijelaskan DR. Ir. Roy Sparringa Kepala BPOM meyakinkan peserta pertemuan tersebut. Seperti diketahui, sejak dibentuknya Konsorsium ini akhir tahun 2014, secara marathon para anggota Konsorsium aktif melakukan kegiatan seperti pertemuan-pertemuan baik internal anggota konsorsium maupun dengan pihak-pihak lain yang dianggap berperan dalam mengawal layanan dan perkembangan industri sel punca di Indonesia. Ini semua dilakukan agar masyarakat Indonesia bisa terlindung dari tawaran-tawaran layanan sel punca yang kurang bertanggung jawab di Indonesia. Seperti diketahui hingga saat ini, masih sedikit produk sel punca yang sudah memperoleh ijin edar di dunia (komersialisasi). Sebagian besar masih dalam penelitian. Apalagi di Indonesia, belum ada satu pun produk sel punca  / stem cell yang telah memperoleh approval dari BPOM.

Konsorsium Sel Punca yang dibentuk Depkes beranggotakan para pakar dari Akademisi, Bisnis (Swasta), Clinician (Klinisi/Dokter) dan Goverment (Pemerintah) yang sering disingkat dengan ABC-G.

Bagi para dokter yang tertarik dengan layanan sel punca, bisa bergabung dalam organisasi seminat Perhimpunan Seminat Dokter Rekayasa Jaringan dan Terapi Sel Indonesia (REJASELINDO) dan bagi para peneliti (dokter maupun non dokter) bisa bergabung di Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI).

Info mengenai Konsorsium Sel Punca, bisa akses:


Diskusi Bulanan PB IDI: Kembalikan Fungsi Puskesmas

dr Gatot Soetono, MPH - PB IDI
Aktifitas Puskesmas yang dicanangkan dan dipraktekkan sejak 40 tahun yang lalu, dianggap membelenggu Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) saat ini. Demikian dijelaskan dr Gatot Soetono. MPH pada acara Dialog Kebangsaan dalam rangka Hari Bhakti Dokter Indonesia ke-107 dan Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2015, di Kantor PB IDI Jakarta Pusat, Senin 30 Maret 2015.

Bagaimana tidak, lanjut Kabid Pengembangan Sistem Pelayanan Kedokteran Terpadu dengan Sistem Rujukan PB IDI tersebut, Puskesmas yang hadir saat belum ada Fakultas Kesehatan Masyarakat dan BPJS tersebut memperkerjakan dokter sebagai tenaga pelaksana Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM). Akibatnya para dokter cenderung melaksanakan UKP (apalagi dijadikan sebagai tenaga Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama) sedangkan UKM yang seharusnya memiliki porsi yang sama atau bahkan lebih besar, ditinggalkan. Bisa diduga, biaya pemeliharaan kesehatan secara nasional akan menjadi mahal karena hal ini bertentangan dengan konsep pencegahan lebih murah pengobatan.

Oleh karena itu, PB IDI mengusulkan agar di era Jaminan Kesehatan saat ini, ada baiknya Upaya Kesehatan Perotangan (yang sering disebut upaya kuratif) diserahkan kepada masyarakat / swasta dan pemerintah baru melibatkan diri kalau belum ada pihak masyarakat / swasta yang berminat. Sedangkan Puskesmas, sesuai namanya dikembalikan fungsinya sebagai Pusat Kesehatan Masyarakat yang menjalankan Upaya Kesehatan Masyarakat (preventif dan promotif) menjadi tanggung jawab pemerintah.

Dialog Kebangsaan PB IDI dalam rangka Hari Bhakti Dokter Indonesia ke-107
dan Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2015


Tulisan lainnya

Akibat sembarangan menggunakan antibiotik

Suasana Workshop Pneumonia yang diselenggarakan
PDPI dengan Kalbe Academia
Peta Kuman di salah satu RS
Masyarakat awam dihimbau agar makin berhati-hati menggunakan antibiotik, di lain pihak, Rumah Sakit dihimbau untuk menyiapkan dan menggunakan peta kuman yang sesuai dengan kondisi dan situasi rumah sakit masing-masing. Demikian pesan singkat yang bisa disimpulkan saat mengikuti Workshop of Infection - Nutrition: Pneumonia in critically ill patients, Sabtu 28 Maret 2015 di hotel Ritz Carlton Jakarta.

Acara yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Kalbe Academia tersebut dibuka oleh Dr. dr. Priyanti ZS, Sp.P(K), MARS yang juga sebagai narasumber materi pertama dengan judul Severe Pneumonia: How to Deal and Management: - Early warning signs of severe pnemonia, - Update guideline of (antibiotic) treatment for severe pneumonia.

Contoh kasus menarik
Dalam acara yang berlangsung setengah hari tersebut, terungkap beberapa kasus menarik yang bisa saja terjadi di rumah sakit baik di poliklinik maupun ICU, antara lain: ada pasien yang hasil kulturnya sudah resisten dengan sebagian besar antibiotik yang ada di pasaran. Hanya satu jenis antibiotik yang masih sensitif. Sayangnya pasien tersebut alergi pada antibiotik tersebut. Di sini sangat dibutuhkan ketrampilan dokter untuk secara bijak mencari / menggunakan antibiotik yang tepat.

Tips cara bijak menggunakan antibiotik

Boenjamin Setiawan: orang tua perlu bergaul dengan teman-teman segenerasinya

dr Boen sharing di acara ASLI
"Meskipun saya sering mengisi waktu luang dengan berinternet (dan menjalankan perusahaan pribadi, red), namun saya tetap mencari waktu untuk bersosialisasi dengan mereka yang sudah masuk dalam usia senior. Untuk itulah kami membentuk perkumpulan yang diberi nama KOWAS (Komunitas Warga Senior). KOWAS rutin mengadakan pertemuan membahas berbagai hal seperti kesehatan, kesejahteraan, dll.”, demikian ungkap dr Boenjamin Setiawan saat diminta komentarnya bagaimana ia mengisi waktu luang di usia 80-an tahun pada acara yang diselenggarakan oleh Asosiasi Senior Living Indonesia (ASLI), Sabtu, 14 Februari 2015 di Balai Kartini Jl. Gatot Soebroto Jakarta.

Konsep agar selalu bersama-sama dengan komunitas seusia dan beraktifitas sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis kiranya menjadi tema dari acara yang diberi judul “Senior Living sebagai Gaya Hidup Lanjut”.

Saat di mana, sang anak ataupun cucu sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing, alangkah mirisnya kalau orang tua kita diminta menjadi “penjaga setia” rumah saja. Lagi pula menurut penelitian, berkumpul dengan teman-teman bisa memperpanjang usia kita secara berkualitas, baca: Ingin umur panjang, bergaullah, http://www.eriktapan.com/2011/01/want-to-live-longer-and-healthy.html

I3L - Healthcare transformation: This time it’s real!

Jeremy Lim - I3L Advisory Board Member.
Bagaimana rasanya jika kita (sebagai orang awam yang menderita penyakit kronis) tidak perlu sering-sering ke dokter, namun kesehatan kita tetap terjaga? Atau bagi tenaga kesehatan, pasien yang datang hanya yang benar-benar membutuhkan penanganan langsung. 

Parameter pemeriksaan kesehatan seperti: tekanan darah, suhu bahkan jumlah langkah kita pun bisa termonitor oleh gadget. Hasil pemeriksaan laboratorium hingga EKG sudah terhubung langsung dengan pusat data di rumah sakit langganan kita.

Wah mana mungkin, biar bagaimana pun kontrol ke dokter itu penting.

Iya, saya tahu itu penting, tapi pernahkan kita berpikir bahwa sebelum ada mesin ATM, orang harus ke bank untuk menabung, mengecek saldo, dll. Tapi apa yang terjadi saat ini, bahkan untuk transfer uang antar bank pun bisa dilakukan via internet (di depan komputer / notebook) di tempat masing-masing.

Cepat atau lambat teknologi akan mempengaruhi layanan kesehatan, yang sayangnya inovasi hal ini lebih banyak berasal dari luar masyarakat kedokteran/kesehatan. 

Pemahaman inilah yang menjadi inti dari presentasi Dr Jeremy Lim di Indonesia International Institute for Life Sciences (I3L) Jakarta, Selasa 13 Januari 2015.

Video Conference menggunakan Google Hang Out

salah satu fitur Google Hang Out, back ground themes
Google Hang Out adalah software video conference yang ketiga yang saya coba. Percobaan dengan software lainnya bisa dilihat di link / URL di bawah artikel ini.
Pada tanggal 30 Desember 2014 sekitar pukul 3 sore, saya melakukan video conference (sekali lagi) dengan Nofa yang dilanjutkan dengan Mas Dewo pada hari yang berbeda. Dari pengalaman tersebut, saya mengambil kesimpulan:

  1. dari sisi fungsi kelihatan bisa mengakomodasi fungsi video conference yang saya inginkan.
  2. masih banyak fungsi / fitur lainnya yang perlu dicoba

Namun ada kelebihan  (atau kekurangan?) dari Google Hangout, yaitu: fiturnya sangat beraneka ragam seperti bisa mengganti back ground, presenternya bisa di "make over” mengenakan kacamata atau berkumis, dst…dst. Ini yang membuat saya, Nofa dan terakhir dengan Mas Dewo jadi lebih asyik utak-atik fitur tersebut dibandingkan mengexplore fitur-fitur khusus video conference. Fasilitas yang lebih cocok ke ABG.

Komputer cepat panas dan baterei boros

Sayangnya dari pengamatan / pengalaman saya, saat menggunakan Google Hang Out, notebook menjadi cepat panas (sehingga kipasnya menderu-deru) serta boros baterei. Sudah 2 jenis notebook yang saya coba yaitu Mac Book Air dan Notebook merk HP. Semuanya begitu. Ada yang bisa menjelaskan kenapa hal ini bisa terjadi?