IdBlogNetwork

Acara launch Sertifikasi Humas Rumah Sakit

Untuk pertama kalinya bertemu langsung dg Pak Anjari
Sebenarnya industri jasa seperti Rumah Sakit rawan sekali mengalami krisis Public Relation (PR). Tapi tahun-tahun sebelumnya sama seperti hormon estrogen melindungi kaum perempuan dari serangan jantung sebelum menopause, industri perumahsakitan terlindungi dari krisis PR karena masih ada anggapan dokter dan layanan kesehatan bersifat elitis (terpandang) sehingga pasien maupun keluarga pasien sungkan jika harus berkonfrontasi dengan pihak Rumah Sakit.

Namun seperti kata pepatah, tidak ada pesta yang tidak selesai, masa-masa “estrogen” sudah mulai hilang. Masyarakat sudah mulai berani mempertanyakan terapi yang menurut mereka kurang rasional dan tidak sesuai dengan apa yang dibaca di internet.

Melihat kondisi masyarakat seperti ini dan tak bisa dielakkan, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) melalui Kompartemen HUMAS & Marketingnya bekerjasama dengan London School of Public Relation (LSPR) serta Majalah SWA/MIX berinisiatif mengadakan Talkshow dan Gathering praktisi Humas RS yang diadakan di Rumah Sakit MMC, Jakarta Selatan, Rabu 3 Mei 2017. Topik yang diangkat adalah "The Role of Public Relations and Corporate Communications in Hospital & Clinic Industry".

Dalam sambutan membuka acara, Bpk. Kemal E. Gani, Pemred Swa Media Group menjelaskan bahwa persaingan industri healthcare tidak hanya sesama pemain dalam negeri tapi juga dengan luar negeri. Oleh karena itu, diharapkan RS benar-benar memperhatikan Marketing Communication (MARCOMM). Apalagi industri layanan kesehatan unik dibandingkan dengan industri lainnya.

Kesempatan berikutnya tampil Ketua Umum PERSI (Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia) Dr. Kuntjoro Adi Poerjanto, MKes, yang mendukung dan menyambut baik adanya sertifikasi HUMAS Rumah Sakit. Kesepahaman ini bertujuan meningkatan kompetensi dan peran profesi humas RS, lanjutnya.

Sambutan terakhir sebelum acara penandatangan kerjasama Program Sertifikasi HUMAR RS, tampil DR. Andre Ikhsano, Direktur London School of Public Relation (LSPR) Jakarta.

Penandatanganan kerjasama program sertifikasi Humas RS

Deteksi Kanker Payudara dengan Mammografi Gratis RS Awal Bros

Cegah Kanker Payudara dg Mammografi gratis RS Awal Bros
Pada perayaan Hari Kartini 2017 ini, RS Awal Bros mengadakan pemeriksaan
mamografi gratis. Rumah Sakit Awal Bros yang ikut serta dalam program ini berlokasi di Batam, Bekasi, Jakarta, Makassar, Pekanbaru dan Tangerang. Alasan RS terakreditasi JCI itu memilih pemeriksaan Mammografi karena kanker payudara menduduki urutan kedua terbanyak penyebab kematian pada wanita di Indonesia. Kanker yang umum terjadi di atas usia 30 tahun ini, paling banyak terjadi pada wanita berusia 45 tahun ke atas. Umumnya pasien tidak mengetahui bahwa dirinya menderita kanker payudara hingga secara tidak sengaja ditemukan saat memeriksakan diri ke dokter. 

Pencegahan
Pencegahan kanker payudara dapat dilakukan secara dini dengan melalukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) dan pemeriksaan Mamografi.
Mamografi adalah pemeriksaan yang menggunakan sinar rontgen dosis rendah untuk melihat jaringan dalam payudara.

Simposium Stem cell bulan Mei 2017, Prodia Tower Jakarta

Pembicara Simposium Stemcell 2017
Ts yang saya hormati. 
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Jakarta Pusat bekerjasama dengan Prodia akan mengadakan
Simposium Stemcell atau Sel Punca pada bulan Mei 2017. Acara  akan diadakan di Gedung Prodia Tower Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat. 
Bagi dokter yang berminat untuk menambah ilmu mengenai Stemcell atau sel punca ini, bisa mendaftar dengan cara mengkilik: http://bit.ly/daftarsimposc 
Pembicaranya tentu para pakar Stem cell di Indonesia level internasional.
Biayanya hanya Rp. 400.000, selambat-lambatnya tangal 8 April 2017 ditransfer ke: rekening 
Ikatan Dokter Indonesia cabang Jakarta Pusat, 
BNI 46, acc. no. 000-669-202-9.
Bukti transfer di WA ke dr Putri, +62 812 1168 2700 .
Pendaftaran BATAL (ulangi) BATAL jika sampai dengan tanggal 8 April 2017, belum membayar.

Keuntungan mendaftar melalui http://bit.ly/daftarsimposc :
1. Tempat sangat terbatas, jadi bisa mengetek tempat terlebih dahulu
    (Aula Gedung Prodia hanya memuat 250 orang akan dibagi 2, untuk dokter dan awam)
2. Bisa dapat harga spesial hanya Rp. 400.000 (dari harga normal: Rp. 750.000)
Jadi tunggu apalagi, segera daftar.



#stemcell #selpunca #IDIJakpus #Prodia

Hati-hati dengan penawaran dari 147 TELKOM

Surat bukti penutupan WIFI.ID
Memang kita akui bahwa PT Telkom Indonesia banyak mengeluarkan produk-produk yang inovatif. Dahulu, saya membayar telpon rumah sekitar Rp. 70.000 / bulan. Itu pun sebagian besar karena biaya langganan. Sekarang ini, pembayaran telpon rumah saya sekitar 300 - 400ribu rupiah per bulan dengan IndiHome Triple Play.
Rupanya ke-inovatif-an PT Telkom Indonesia, kurang diikuti dengan Customer Service-nya. Contohnya, sejak lebih dari 6 bulan yang lalu, saya tertarik dan ikut program langganan Wifi.id sebesar Rp. 10.000 / bulan yang ditawarkan via 147. Sayangnya username dan password yang diberikan via email tidak tercantum (attachment-nya tidak ada). Saya pun kontak via Twitter. Ini pun tidak gampang. Admin Twitter menjawab dia hanya bisa memberikan tiga digit terakhir dari password. Terus apa yang saya akan lakukan dengan 3 digit tersebut, username dan password-nya saja tidak saya terima sebelumnya. Setelah berulangkali meyakinkan sang mimin, akhirnya dia pun bersedia meng-email usernama dan password yang setelah dicoba......tidak berhasil. Singkat cerita karena sudah tidak ingin menggunakan +Wifi.id Official lagi, saya pun mencoba menelpon 147 untuk membatalkan langganan @wifi.id tersebut. Ternyata tidak ada yang bisa memberhentikan langganan ini dengan berbagai alasan. Pikiran saya, koq jadi ribet begini kalau mau berhenti langganannya ya?


Mulai saat itu, setiap 147 menelpon untuk menawarkan program baru (saya heran, sang tele marketing selalu menawarkan product baru, sedangkan product yang lama belum beres), selalu saya katakan tidak tertarik dan mohon saya di-unsubscribe program @wifi.id-nya. Responnya pun bermacam-macam. Ada yang mengatakan sudah dicabut tapi ternyata tidak terbukti. Tagihan per bulan Rp. 10.000 masih selalu muncul. Malah ada yang sampai datang ke rumah akan memeriksa router wifi saya. Tentu ditolak, karena masalahnya kan saya tidak bisa akses @wifi.id BUKAN dengan router saya. Koq susah dimengerti ya?


Akhirnya pada tanggal 17 Desember 2016 (setelah sekitar 6 bulan / lebih) saya ke Gerai Telkom di Rawamangun sebelah ACE Hardware. Saya jelaskan apa yang terjadi dan mohon kiranya (masih mencoba) diberi username dan password. Eh...rupanya bahkan di Gerai Telkom pun saya tidak bisa langsung menerima username dan password. Si CS yang namanya tercantum di foto mengatakan bahwa, produk itu harus di-subscribe dari wifi di rumah saya. Saya jelaskan sekali lagi, saya sudah terdaftar, hanya perlu username dan password yang bisa digunakan. Tolong diberikan untuk saya masukan / input LANGSUNG di depan sang CS,ke notebook yang saya bawa ini. Lagipula kenapa harus di rumah? Ini info baru buat saya. Sebelum-sebelumnya, tidak ada info ini dari pihak manapun agar username dan password @wifi.id bisa aktif perlu melakukan subscribe dari wifi rumah.
 
Ya sudah, karena sang CS tidak bisa membantu saya memberikan username dan password, saya minta ditutup saja. Bayangkan bagaimana perasaan dirayu dan dibuat ada tapi tiada. Mau putus juga nggak bisa.

Pertemuan ke-40 KOWAS: Tujuh Tahun Pengabdian #DoctorSHARE

Dr Lie Dharmawan DoctorSHARE bersama KOWAS
Di mana ada kemauan, di situ selalu ada jalan. Apalagi jika kemauan itu mulia seperti menolong orang-orang yang kurang mampu. Dr Lie bahkan sempat dijuluki dokter gila, karena cita-citanya melayani masyarakat timur Indonesia di usia yang sudah tidak muda lagi. Namun kemauan yang membaja dr Lie itu tidak surut. Buktinya guna mewujudkan cita-citanya memiliki kapal RS Apung, dr Lie tidak menyesal menjual salah satu rumahnya. Akhirnya dengan didukung relawan/wati serta para donator, dr Lie terus berkarya tanpa peduli padangan miring orang di sekitarnya.

Pada hari Sabtu 19 November 2016,  bersama Komunitas Senior (KOWAS), kami dundang menghadiri perayaan HUT ke-7 yayasan dari dibentuk dr Lie, Yayasan Dokter Peduli atau yang lebih dikenal dengan julukan DokterSHARE. Acara yang disponsori Jet Sky Cafe di kompleks Pantai Mutiara Jakarta Utara itu, bertujuan memperkenalkan kepada masyarakat program-program DokterSHARE baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilaksanakan. Tentu tidak ketinggalan para undangan bisa masuk dan melihat 2 kapal RS Apung yang sebentar lagi akan menjadi 3 buah kapal / RS Apung.


Berikut foto-fotonya yang bisa diakses di Facebook saya: https://www.facebook.com/media/set/?set=a.10211611196541250.1073741900.1406016449&type=1&l=2f68e1748e


Bekerja dengan efisien dan efektif menghadapi kegagalan

Dalam bekerja, tentu kita menginginkan pekerjaan yang efisien dan efektif. Sayang hal ini tidak mudah tercapai. Khususnya dalam menghadapi kegagalan, ada dua prinsip yang kelihatannya bertolak belakang, yaitu:


  1. Jika melakukan satu hal dan belum berhasil, lakukan hal itu terus menerus. Siapa tahu keberhasilan ada di tindakan berikutnya.
  2. Jika hal yang kita lakukan belum berhasil, coba cara lain. Tidak mungkin hal yang tidak berhasil bisa menjadi berhasil dengan cara yang sama.


Saat topik ini saya posting sebagai pertanyaan di FB saya, banyak yang merespons, namun pada kesimpulannya:

Baik pilihan 1 maupun 2, sama-sama bisa digunakan sesuai situasi dan kondisi. Jika kita yakin bahwa cara yang kita lakukan sudah benar, tidak ada salahnya kita lakukan terus. Namun pastikan keyakinan tersebut kita peroleh dari orang yang sudah berhasil melakukannya.

Pesan saya, jika ingin efisien dan efektif, jangan coba-coba dengan harapan akan berhasil. Kita ikuti saja apa yang sudah berhasil dilakukan orang lain.

Bagaimana dengan pengalaman Anda, ada pendapat lain, silakan di share di bagian comment.

Terima kasih.

BRI membuat kita dekat dengan Tuhan

[Sudah di follow up sama BRI, baca update-an di akhir tulisan] Sudah lebih dari sebulan, saya tidak bisa menggunakan BRI  internet banking. Hal ini dimulai saat saya ingin login ke BRI Internet Banking, ada error message yang menjelaskan bahwa proses ini diblok karena telah salah memasukkan password sebanyak 3x. Padahal seyakin-yakinnya saya tidak salah memasukkan username dan password.

Setelah dibuat cukup repot untuk selalu menggunakan transaksi via ATM BRI, hari ini saya berkesempatan mengunjungi Bank BRI untuk mengajukan komplain mengenai hal tersebut.

Dengan hangat, CS BRI melayani saya. Singkat cerita (aslinya agak panjang termasuk berkali-kali mencoba login di hadapan CS tsb.), setelah saya jelaskan bahwa saya tidak bisa transaksi online gara-gara Username dan Password dibilang salah, akhirnya CS BRI (fisik) menelpon CS BRI (online) untuk mencoba menyelesaikan  hal tersebut.
Dihadapan CS fisik, saya pun berkomunikasi dengan CS online. Seperti biasa, menyamakan data identitas (padahal apa perlunya ya?), dst. Setelah itu CS online mengatakan bahwa sesuai dengan info yang dilihat di komputernya, account saya masih aktif. Saya diminta mencoba login lagi. Namun karena HP saya lowbat dan sudah cukup frustasi dengan prosedur ini, saya pun mengiyakan, iya akan saya coba di rumah saja.

Autodebet BPJS
Karena sudah terlanjur ada di BRI, saya pun mencoba untuk memanfaatkan fasilitas autodebet BRI untuk pembayaran BPJS. Sayangnya untuk saat ini, fitur autodebet pembayaran iuran BRI sudah tidak ada lagi. Boleh dibilang, dua jam saya berada di kantor BRI, tanpa ada sesuatu yang bisa di-solve.


Otokritik: Dokter dan Vaksinasi

Dokter yang memerlukan profesi lain
Berikut disampaikan sebuah tulisan ringan, kurang lebihnya mohon dikomentari.
• Mobil roda empat, tetapi kenapa perlu 5 buah ban?
• Naik motor jarak dekat, tetapi kenapa perlu menggunakan helm?
• Belum tentu bayi akan menderita sakit, tetapi kenapa perlu divaksin?

Hal-hal di atas menunjukkan betapa pentingnya tindakan preventif.


Lalu hubungannya dengan dokter?

Saat ini, sering kita baca di berbagai media, seorang dokter diperiksa polisi/pihak berwenang datang sendirian (tanpa ditemani ahli hukum) ke kantor polisi. Tahu-tahu sudah ditetapkan menjadi tersangka.
Mungkin karena merasa tidak bersalah, jadi sang dokter tidak mempermasalahkan diinterogasi sendirian.

Bagaimana pendapat ts jika ada Bpk/Ibu orang tua yang mengatakan, "Dok, bayi saya tidak perlu vaksin. Kami akan merawat bayi kami sebaik mungkin. Kami yakin dengan perawatan yang kami lakukan, bayi kami tidak akan terjangkit penyakit yang divaksin tersebut!!"

Jaman sudah berubah, menurut saya, seorang dokter, terlepas dari akan dinyatakan bersalah atau tidak, hendaknya mau melindungi dirinya dengan menggunakan ahli hukum saat berhadapan dengan penegak hukum. Sama seperti masyarakat yang sudah menyerahkan urusan vaksin ke dokter, tidak ada salahnya dokter juga meminta bantuan ahli hukum untuk membantunya. Sebelum terlambat dan bahkan menerima hukuman dari masyarakat meskipun belum ditanyakan  bersalah.

Bagaimana pendapat Anda?

Tulisan sejenis: https://businessinspiration.co/2016/07/23/diinterogasi-dokter-perlu-mahfum-perlunya-ahli-hukum/


Bagaimana Rumah Sakit JCI melindungi pasien dari Vaksin Palsu

Keselamatan pasien / Patient Safety merupakan tujuan utama dari akreditasi Rumah Sakit standard Internasional JCI atau Joint Commission International. Sehubungan dengan beredarnya informasi mengenai adanya Vaksin Palsu, berikut penjelasan dr Ferdy Tiwow MS, Direktur Korporat Grup RS Awal Bros, kelompok RS peraih JCI dengan jumlah terbanyak dalam satu grup di Indonesia.

Latar belakang pemilihan Standard JCI
Saat ditanya, kenapa JCI yang dipilih, bukan standard-standard internasional lainnya, Ferdy menjelaskan bahwa meskipun aspek-aspek dalam standard JCI itu banyak, tapi pada umumnya sebagian besar untuk keselamatan pasien. Standar JCI mengukur bagaimana Rumah Sakit menerapkan cara-cara yang aman untuk meminimalkan kejadian yang bisa mengancam keselamatan pasien (patient safety). Sebelumnya, masih menurut dokter lulusan FK UNSRAT Manado tersebut, Grup RS Awal Bros menggunakan standard yang lebih banyak mengukur kelengkapan administrasi/dokumentasi. JCI dipilih karena lebih memperhatikan keselamatan pasien.

Bagaimana Rumah Sakit yang terakreditasi JCI bisa melindungi pasiennya dari penggunaan Vaksin Palsu
Dalam hal ini, Rumah Sakit yang telah terakreditasi JCI sudah menerapkan standard yang disebut Supply Chain Management dalam menyeleksi pembelian obat, alat kesehatan (alkes) dan vaksin. Proses seleksi ini sudah dimulai dari saat produksi (di pabrik obat/ farmasi), saat berada di distributor hingga rantai distribusi di dalam rumah sakit itu sendiri.
Contohnya, rumah sakit akan memilih obat yang diproduksi oleh pabrik obat / farmasi yang telah memenuhi standard Good Manufacturing Practise (GMP) / Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Rumah sakit juga akan memilih dan bekerjasama dengan perusahaan distributor yang telah menjalankan proses distribusi sesuai dengan pedoman Good Distribution Practise (GDP) atau Tata Cara Distribusi Obat yang Benar. Begitu juga dengan perlakuan produk tersebut di dalam rumah sakit hingga diberikan ke pasien. Tentu semuanya dilakukan dengan ketentuan yang berlaku.
Untuk memastikan hal-hal di atas, pihak yang ingin bekerjasama dengan rumah sakit harus bersedia untuk dikunjungi tim dari Rumah Sakit untuk melihat apakah benar standard-standard tersebut telah dijalankan.
Saat berkunjung ke perusahaan distribusi, pihak rumah sakit harus meninjau apakah  memenuhi persyaratan, seperti: 
  • Distributor memiliki ruang penyimpanan obat yang berpengatur suhu dan kelembaban sehingga dapat menjamin kualitas obat dan/atau bahan obat selama dalam penyimpanan
  • Produk tidak terekspos suhu yang tinggi, kelembaban yang tinggi,  sinar matahari langsung dan hujan
  • Distributor memiliki orang-orang yang akan mengawasi proses distribusi / apoteker
  • Distributor memiliki prosedur untuk mengenal obat-obat kadaluarsa
  • Distributor memiliki prosedur untuk re-call (penarikan kembali)
  • Distributor memiliki prosedur untuk bisa melihat dan  memisahkan apakah obat itu fake (palsu) atau diverted (dikemas kembali)


Pemanfaatan GDrive dalam pembuatan Website Corporate

Melihat judul tulisan di atas, mungkin ada pembaca yang masih bingung. Apa hubungan Gdrive dengan pembuatan website?

Sebelum menjelaskan hal itu, perkenankan saya memperkenalkan diri dulu. Mudah-mudah dengan mengetahui latar belakang profesi saya saat ini, pembaca bisa lebih jelas hubungan Gdrive dengan website.

Berlatar pendidikan dokter, sejak awal saya memiliki misi pribadi yaitu bagaimana IT bisa membantu dunia kesehatan.  Pekerjaan demi pekerjaan sudah saya tempuh dalam rangka menjalankan misi tersebut yang akhirnya tiba pada profesi saat ini yaitu sebagai Health Social Media Consultant.

Ada satu project yang saya kerjakan saat ini yaitu pembuatan website multisociomedia. Disebut website multisociomedia karena menggabungkan antara web perusahaan dengan multimedia dan social media perusahaan.

Project ini adalah project dari salah satu group Rumah Sakit yang memiliki banyak cabang (ada 9 cabang) yang tersebar di sebagian Indonesia seperti di Sumatera, Jawa dan Sulawesi.

Tentu untuk mengerjakan ini saya menggandeng developer, yaitu pihak yang merancang dan membuat website.

Belajar dari pengalaman membangun website sebelumnya, salah satu (satu aja, yang lain akan ditulis dalam artikel lain lagi) kendala yang bisa terjadi adalah komunikasi data. Jadi sang developer harus menerima data dari 10 tempat (9 cabang + 1 kantor pusat). Bayangkan betapa repotnya jika sang developer tidak memiliki kemampuan mengelola (arsip) data tersebut. Yang bisa terjadi, saat data dibutuhkan dan tidak ketemu, bisa saling lempar tanggung jawab. "Saya sudah kirim koq", "tanggal berapa", "nama pengirimnya siapa", dst..yang akhirnya mesti re-send lagi kalau belum ketemu.
Apalagi jika subjet file emailnya sering sama atau hanya merupakan reply dari email sebelumnya. Yang pernah mengalami pasti bisa membayangkan :)
Tahu kan mail box sekarang, email sering ditumpuk2.

Pemanfaatan Gdrive