IdBlogNetwork

Hari Pelanggan Nasional 2015, dikunjungi PT Telkom Indonesia

Ibu Wati & Ibu Mei dari TELKOM
Ting-tong, bel rumah berbunyi. Siapa yang datang nih pas saya mau berangkat kerja. Ada mobil IndiHome TELKOM parkir di depan rumah. Mau servis? Perasaan akses fiber optik IndiHome saya OK-OK saja. Usee TV (meskipun jarang ditonton), sepertinya tidak bermasalah.
Target 3jt Pelanggan IndiHome dideklarasi di Home Pelanggan
oleh Ibu Mei, Pak Joko dan Pak Supri
Rupanya hari ini, tanggal 4 September 2015, dalam rangka Hari Pelanggan Nasional (HarPelNas), pihak Telkom berkenan mengunjungi rumah saya yang memang sampai saat ini sudah berlangganan IndiHome Triple Play (akses internet, UseeTV dan Telpon Rumah).

Setelah melalui obrolan pembukaan, perkenalan, dll., seperti biasa (jadi ingat pengalaman saat kerja di Kalbe Farma. Waktu itu, setiap HUT Kalbe dari level Direksi hingga Manager turun menemui pelanggan seperti rumah-rumah sakit, apotik, dll.

Asuransi Proteksi Dokter Indonesia dari PB IDI

Grand Launching Asuransi Proktesi Dokter Indonesia
Untuk pertama kalinya Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) meluncurkan asuransi proteksi untuk para dokter Indonesia. Proteksi dari apa? Bukankah sudah ada BPJS? Yup benar, jika berbicara proteksi dari biaya yang perlu dikeluarkan jika menderita sakit, tentu BPJS adalah salah satu proteksi. Tapi ini, karena jaman makin maju, pengetahuan masyarakat makin meningkat, bukan tidak mungkin -meskipun dokter telah berusaha untuk melakukan yang terbaik- ada saja pasien yang menuntut dan memperkarakan dokter. Risiko inilah yang dicoba sharing dengan Asuransi Jiwasraya dan Asuransi ASEI. Kedua asuransi pelat merah tersebut bersedia membagi risiko atas tuntutan sengketa medis yang mungkin dialami para anggota IDI di seluruh Indonesia. 

Bukan itu saja, menurut Ketua Umum PB IDI, dr Zaenal Abidin MHKes saat ditemui pada acara Grand Launching Asuransi Proteksi Dokter Indonesia, Kamis 27 Agustus 2015, tidak hanya sengketa medis saja yang dicover, bahkan para dokter bisa dengan bebas (free) berkonsultasi mengenai masalah hukum baik saat tidak bermasalah, sebelum atau sementara proses mediasi.

Manfaat
Manfaat Sengketa atau Kelalaian Medik yang bisa diperoleh antara lain:
  • Sengketa Medis
  • Kelalaian dan pelanggaran tugas perawatan
  • Kesalahan karyawan di bawah supervisi Dokter
  • Konsultasi hukum medikolegal via phone dengan perjanjian dan Konsultasi hukum medikolegal tatap muka khusus daerah Jakarta
  • Penyuluhan medikolegal
  • Pendampingan klaim dan analisis medikolegal
  • Menjamin tempat praktek dan tempat penugasan dokter

Selain manfaat Sengketa Medis atau Kelalaian Medis, asuransi proteksi ini juga menutup risiko kematian (Jiwa), berapapun umur dokter anggota IDI tersebut.

GE Healthcare Innovation Forum 2015

Erik Tapan - David Utama - Lula Kamal - Yohana Nevilya
Sebagai perusahaan yang telah berkiprah di Indonesia lebih dari 70 tahun, tentu berbagai aktifitas marketingnya bisa menjadi inspirasi bagi  perusahaan-perusahaan lainnya di Indonesia. Setiap tahun GE melalui anak perusahaannnya GE Healthcare mengadakan sebuah forum yang mengulas berbagai isu kesehatan global maupun nasional. Topik yang diangkat tahun ini adalah “Strategi dan Kesempatan di Negara Ekonomi Berkembang”.



GE HEalthcare Innovation Forum 2015 (begitu forum ini dinamai) diadakan dari tanggal 21 hingga 22 Agustus 2015 di hotel Fairmont Jakarta berupa simposium, seminar, workshop dan pameran yang didisain menyerupai rumah sakit mini untuk menampilkan berbagai produk inovasi GE Healthcare. Lebih dari  100 peserta yang terdiri para dokter (dan tenaga kesehatan lainnya), Direktur Rumah Sakit, rekanan GE Healthcare Indonesia hadir pada acara ini guna berbagi best practice dan melahirkan kolaborasi-kolaborasi baru untuk menciptakan sektor kesehatan berkelanjutan di Indonesia untuk masa mendatang.

Alamat terkini IDI Cabang Jakarta Pusat

Berbekal pengalaman betapa susahnya mencari alamat IDI Jakarta Pusat di internet, mudah-mudahan informasi ini bisa bermanfaat bagi Dokter atau siapapun yang membutuhkannya.

Awalnya IDI Cabang Jakarta Pusat berkantor di:
    Jl. Cempaka Putih Barat III/17c
    Jakarta, Indonesia 10520

Tapi ternyata sudah pindah ke:
    Jl. Kesehatan No. 10
    Tanah Abang   
    Jakarta Pusat

NAMUN, mulai Januari 2015 pindah ke:

Perkantoran Apartment Menteng Square
Jl. Matraman no. 30E
Tower B, lantai 3 no. 41
Jakarta Pusat 13210
No Telp.: 021-29614371
Jam Kerja: Senin - Jumat pkl.09:00 - 16:00 WIB



Ini petanya:

Kerja itu Main tapi bukan main-main!!

Punya kisah menarik, bagaimana Anda mencintai pekerjaan Anda ?


Baca kisah saya di: http://kerjaitumain.com/gallery/detail/mendokterkan-internet-dan-menginternetkan-dokter tentang bagaimana Mendokterkan Internet dan Menginternetkan Dokter.

Bagaimana pendapat Anda?


FGD Kompas: Pola Konsumsi Media Digital

Menggunakan Sensor Bola Mata
Sabtu, 23 Mei 2015 kami diundang oleh pihak Kompas dalam rangka Focus Group Discussion (FGD) Pola Konsumsi Media Digital. Meskipun baik kami maupun tuan rumah semuanya tidak pernah ketemu sebelumnya namun berkat kelihaian (keramatahan, dll.) pihak tuan rumah, diskusi pun berlangsung seru namun hangat. Tak terasa hampir 3 jam kami berdiskusi yang dipandu oleh Ibu Theresia.

Dengan lincahnya Ibu Theresia melemparkan pertanyaan ke kita-kita, yang sayangnya setiap kali ditanya balik, sang Ibu hanya melempar senyum tanpa ada jawabannya (ha…ha…ha… fungsi moderator FGD mesti begitu ‘kali  :)).

Dari pertemuan kemarin saya menemukan fakta yang menarik yang mungkin belum banyak yang mengetahui, yaitu mengenai produk-produk digital dari Harian Kompas, selain Kompas yang dicetak secara fisik.

Mohon maaf kalau penggambarannya masih kurang tepat karena kami memang tidak dibagi catatannya karena acara ini khan bukan pers conference :)

1. Kompas.com (http://www.kompas.com)

Kompas dot com adalah website/situs yang menyanyikan informasi yang up to date namun isi beritanya tidak terlalu dalam. Kecepatan pembuatan berita menjadi prioritas dan seandainya ada hal yang perlu ditambahkan, dibuat dalam berita lain lagi. Oleh sebab itu dalam membaca berita di kompas.com, tidak jarang kita harus mengklik lebih dari satu berita untuk topik yang sama.


Pertemuan KE-33 Komunitas Warga Senior: Belajar membuat keramik

Testimoni Pengunjung
Rumah Keramik
Untuk yang ke-33 kalinya, Komunitas Warga Senior (KOWAS) akan menyelenggarakan pertemuannya. Kali ini akan diadakan di rumah Keramik Bpk. F. Widayanto di Tanah Baru Depok.

Rencananya siapa yang tertarik untuk belajar keramik bisa berkumpul pada:

  • Hari/tanggal:  Sabtu, 23 Mei 2015
  • Berangkat pkl. 08:00 WIB, diperkirakan sudah kembali pkl. 16:00 WIB.
  • Alamat pertemuan:  Gedung Kalbe, Jl. Letjend Soeprapto kav. 4, Jakarta Pusat
  • Biaya Rp. 205.000:
    • GRATIS (dengan menunjukkan member card KOWAS yang masih berlaku)
    • Harga khusus: Rp. 150.000 (dengan menyebutkan mengetahui dari Blog dr Erik, tempat terbatas)


Tempat terbatas, segera hubungi bagian pendaftaran: 021-42873888 ext.1930 (sen-jum, pk 08.00 - 14.00), 08121307838 (Lastrie). Untuk registrasi ulang membercard KOWAS hanya Rp. 350.000/tahun (free mengikuti semua aktifitas KOWAS),- atau Non Member yg ingin ikut wisata keramik dapat menstransfer ke rekening KOWAS a.n Janti Atmojo atau a.n atau Erik Tapan, Bank BCA, 7060397826. Terima kasih.

Daftar aktifitas KOWAS

BPOM akan mengawal layanan dan industri Sel Punca

Tampak Ketua BPOM bersama Ketua Konsorsium Sel Punca
Bertempat di Kantor Badan Pengawas Obat dan Makanan Jakarta Pusat, Selasa 7 April 2015 telah diadakan pertemuan antara BPOM dengan Konsorsium Sel Punca Indonesia. 

“BPOM akan selalu mengawal penelitian dan pengembangan industri Sel Punca di Indonesia”, demikian dijelaskan DR. Ir. Roy Sparringa Kepala BPOM meyakinkan peserta pertemuan tersebut. Seperti diketahui, sejak dibentuknya Konsorsium ini akhir tahun 2014, secara marathon para anggota Konsorsium aktif melakukan kegiatan seperti pertemuan-pertemuan baik internal anggota konsorsium maupun dengan pihak-pihak lain yang dianggap berperan dalam mengawal layanan dan perkembangan industri sel punca di Indonesia. Ini semua dilakukan agar masyarakat Indonesia bisa terlindung dari tawaran-tawaran layanan sel punca yang kurang bertanggung jawab di Indonesia. Seperti diketahui hingga saat ini, masih sedikit produk sel punca yang sudah memperoleh ijin edar di dunia (komersialisasi). Sebagian besar masih dalam penelitian. Apalagi di Indonesia, belum ada satu pun produk sel punca  / stem cell yang telah memperoleh approval dari BPOM.

Konsorsium Sel Punca yang dibentuk Depkes beranggotakan para pakar dari Akademisi, Bisnis (Swasta), Clinician (Klinisi/Dokter) dan Goverment (Pemerintah) yang sering disingkat dengan ABC-G.

Bagi para dokter yang tertarik dengan layanan sel punca, bisa bergabung dalam organisasi seminat Perhimpunan Seminat Dokter Rekayasa Jaringan dan Terapi Sel Indonesia (REJASELINDO) dan bagi para peneliti (dokter maupun non dokter) bisa bergabung di Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI).

Info mengenai Konsorsium Sel Punca, bisa akses:


Diskusi Bulanan PB IDI: Kembalikan Fungsi Puskesmas

dr Gatot Soetono, MPH - PB IDI
Aktifitas Puskesmas yang dicanangkan dan dipraktekkan sejak 40 tahun yang lalu, dianggap membelenggu Sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) saat ini. Demikian dijelaskan dr Gatot Soetono. MPH pada acara Dialog Kebangsaan dalam rangka Hari Bhakti Dokter Indonesia ke-107 dan Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2015, di Kantor PB IDI Jakarta Pusat, Senin 30 Maret 2015.

Bagaimana tidak, lanjut Kabid Pengembangan Sistem Pelayanan Kedokteran Terpadu dengan Sistem Rujukan PB IDI tersebut, Puskesmas yang hadir saat belum ada Fakultas Kesehatan Masyarakat dan BPJS tersebut memperkerjakan dokter sebagai tenaga pelaksana Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM). Akibatnya para dokter cenderung melaksanakan UKP (apalagi dijadikan sebagai tenaga Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama) sedangkan UKM yang seharusnya memiliki porsi yang sama atau bahkan lebih besar, ditinggalkan. Bisa diduga, biaya pemeliharaan kesehatan secara nasional akan menjadi mahal karena hal ini bertentangan dengan konsep pencegahan lebih murah pengobatan.

Oleh karena itu, PB IDI mengusulkan agar di era Jaminan Kesehatan saat ini, ada baiknya Upaya Kesehatan Perotangan (yang sering disebut upaya kuratif) diserahkan kepada masyarakat / swasta dan pemerintah baru melibatkan diri kalau belum ada pihak masyarakat / swasta yang berminat. Sedangkan Puskesmas, sesuai namanya dikembalikan fungsinya sebagai Pusat Kesehatan Masyarakat yang menjalankan Upaya Kesehatan Masyarakat (preventif dan promotif) menjadi tanggung jawab pemerintah.

Dialog Kebangsaan PB IDI dalam rangka Hari Bhakti Dokter Indonesia ke-107
dan Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2015


Tulisan lainnya

Akibat sembarangan menggunakan antibiotik

Suasana Workshop Pneumonia yang diselenggarakan
PDPI dengan Kalbe Academia
Peta Kuman di salah satu RS
Masyarakat awam dihimbau agar makin berhati-hati menggunakan antibiotik, di lain pihak, Rumah Sakit dihimbau untuk menyiapkan dan menggunakan peta kuman yang sesuai dengan kondisi dan situasi rumah sakit masing-masing. Demikian pesan singkat yang bisa disimpulkan saat mengikuti Workshop of Infection - Nutrition: Pneumonia in critically ill patients, Sabtu 28 Maret 2015 di hotel Ritz Carlton Jakarta.

Acara yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerjasama dengan Kalbe Academia tersebut dibuka oleh Dr. dr. Priyanti ZS, Sp.P(K), MARS yang juga sebagai narasumber materi pertama dengan judul Severe Pneumonia: How to Deal and Management: - Early warning signs of severe pnemonia, - Update guideline of (antibiotic) treatment for severe pneumonia.

Contoh kasus menarik
Dalam acara yang berlangsung setengah hari tersebut, terungkap beberapa kasus menarik yang bisa saja terjadi di rumah sakit baik di poliklinik maupun ICU, antara lain: ada pasien yang hasil kulturnya sudah resisten dengan sebagian besar antibiotik yang ada di pasaran. Hanya satu jenis antibiotik yang masih sensitif. Sayangnya pasien tersebut alergi pada antibiotik tersebut. Di sini sangat dibutuhkan ketrampilan dokter untuk secara bijak mencari / menggunakan antibiotik yang tepat.

Tips cara bijak menggunakan antibiotik