IdBlogNetwork

Punya banyak #socmed , rajinlah!!

Ilustrasi gambar yg tidak sesuai ketentuan IG
Saya bertemu dengan ts dr. Anwar (sebut saja demikian), pada salah satu acara Workshop mengenai Public Relation. Kebetulan saya dipercaya panitia menjadi salah satu pembicara dengan topik Socmed dalam bidang PR (begitulah kira-kira, judul persisnya sudah agak lupa).

Dr Anwar ini seorang dokter sekaligus pemilik salah satu RS di Jakarta. Selama acara workshop berlangsung, dr Anwar salah satu orang yang paling sering berdiskusi. Saat lunch, beliaupun mendekati saya dan berbincang. Beliau tertarik kepada Socmed karena memiliki pandangan bahwa di era super kompetisi saat ini, sudah sepantasnya Rumah Sakitnya harus memiliki socmed.
Setelah workshop pertemanan saya dengan dr Anwar berlanjut via WA group saja, khususnya yang membahas management Rumah Sakit.

Beberapa minggu yang lalu, beliau kontak saya minta bertemu. Karena penasaran belum pernah berkunjung ke RSnya, lalu berkunjunglah saya ke rumah sakitnya. Setelah ngobrol sana-sini, beliau bercerita bahwa rumah sakitnya sudah memiliki socmed tapi koq, performancenya tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Sayapun kemudian mencoba melihat socmed RS tersebut. Apa yang terjadi?
Begini evaluasinya:

#TipsDialisis : Pasien Cuci Darah lemes, no way

Pasien Hemodialisis yang aktif
Gagal Ginjal bukanlah akhir dari segalanya. Dengan asupan gizi yang tepat, dialisis (cuci darah) yang adekuat dan aktifitas fisik (olahraga) yang memadai, pasien gangguan ginjal terminal bisa beraktifitas layaknya orang normal.

Namun, manusia bukanlah mesin yang tidak pernah mengalami kelelahan dan bosan. Kadang pasien yang harus melakukan cuci darah karena ginjalnya sudah tidak berfungsi mengalami saat-saat yang kurang menyenangkan / down. Kurang bersemangat untuk makan (kalau kurang bersemangat minum sih, nggak ya?). Padahal seperti yang kita ketahui, kebutuhan (khususnya protein) pada mereka yang sudah dialisis lebih BANYAK dari orang normal.

Tolong ketidaksemangatan itu jangan diikuti, karena saat pasien menjadi lemes dan tidak bergairah, orang-orang sekitarnya akan lebih permisif. Kan sakit, normal donk lemes dan tidak bergairah. Jika kondisi ini diteruskan, maka pasien akan masuk ke lingkaran setan, makin lemes, makin susah makan, hb menurun, dst…dst…

Bayangkan, orang sehat pun (sekali lagi orang sehat pun), kalau makannya sedikit, PASTI akan menjadi lemes.

Solusinya

Acara launch Sertifikasi Humas Rumah Sakit

Untuk pertama kalinya bertemu langsung dg Pak Anjari
Sebenarnya industri jasa seperti Rumah Sakit rawan sekali mengalami krisis Public Relation (PR). Tapi tahun-tahun sebelumnya sama seperti hormon estrogen melindungi kaum perempuan dari serangan jantung sebelum menopause, industri perumahsakitan terlindungi dari krisis PR karena masih ada anggapan dokter dan layanan kesehatan bersifat elitis (terpandang) sehingga pasien maupun keluarga pasien sungkan jika harus berkonfrontasi dengan pihak Rumah Sakit.

Namun seperti kata pepatah, tidak ada pesta yang tidak selesai, masa-masa “estrogen” sudah mulai hilang. Masyarakat sudah mulai berani mempertanyakan terapi yang menurut mereka kurang rasional dan tidak sesuai dengan apa yang dibaca di internet.

Melihat kondisi masyarakat seperti ini dan tak bisa dielakkan, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) melalui Kompartemen HUMAS & Marketingnya bekerjasama dengan London School of Public Relation (LSPR) serta Majalah SWA/MIX berinisiatif mengadakan Talkshow dan Gathering praktisi Humas RS yang diadakan di Rumah Sakit MMC, Jakarta Selatan, Rabu 3 Mei 2017. Topik yang diangkat adalah "The Role of Public Relations and Corporate Communications in Hospital & Clinic Industry".

Dalam sambutan membuka acara, Bpk. Kemal E. Gani, Pemred Swa Media Group menjelaskan bahwa persaingan industri healthcare tidak hanya sesama pemain dalam negeri tapi juga dengan luar negeri. Oleh karena itu, diharapkan RS benar-benar memperhatikan Marketing Communication (MARCOMM). Apalagi industri layanan kesehatan unik dibandingkan dengan industri lainnya.

Kesempatan berikutnya tampil Ketua Umum PERSI (Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia) Dr. Kuntjoro Adi Poerjanto, MKes, yang mendukung dan menyambut baik adanya sertifikasi HUMAS Rumah Sakit. Kesepahaman ini bertujuan meningkatan kompetensi dan peran profesi humas RS, lanjutnya.

Sambutan terakhir sebelum acara penandatangan kerjasama Program Sertifikasi HUMAR RS, tampil DR. Andre Ikhsano, Direktur London School of Public Relation (LSPR) Jakarta.

Penandatanganan kerjasama program sertifikasi Humas RS

Deteksi Kanker Payudara dengan Mammografi Gratis RS Awal Bros

Cegah Kanker Payudara dg Mammografi gratis RS Awal Bros
Pada perayaan Hari Kartini 2017 ini, RS Awal Bros mengadakan pemeriksaan
mamografi gratis. Rumah Sakit Awal Bros yang ikut serta dalam program ini berlokasi di Batam, Bekasi, Jakarta, Makassar, Pekanbaru dan Tangerang. Alasan RS terakreditasi JCI itu memilih pemeriksaan Mammografi karena kanker payudara menduduki urutan kedua terbanyak penyebab kematian pada wanita di Indonesia. Kanker yang umum terjadi di atas usia 30 tahun ini, paling banyak terjadi pada wanita berusia 45 tahun ke atas. Umumnya pasien tidak mengetahui bahwa dirinya menderita kanker payudara hingga secara tidak sengaja ditemukan saat memeriksakan diri ke dokter. 

Pencegahan
Pencegahan kanker payudara dapat dilakukan secara dini dengan melalukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) dan pemeriksaan Mamografi.
Mamografi adalah pemeriksaan yang menggunakan sinar rontgen dosis rendah untuk melihat jaringan dalam payudara.

Simposium Stem cell bulan Mei 2017, Prodia Tower Jakarta

Pembicara Simposium Stemcell 2017
Ts yang saya hormati. 
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Jakarta Pusat bekerjasama dengan Prodia akan mengadakan
Simposium Stemcell atau Sel Punca pada bulan Mei 2017. Acara  akan diadakan di Gedung Prodia Tower Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat. 
Bagi dokter yang berminat untuk menambah ilmu mengenai Stemcell atau sel punca ini, bisa mendaftar dengan cara mengkilik: http://bit.ly/daftarsimposc 
Pembicaranya tentu para pakar Stem cell di Indonesia level internasional.
Biayanya hanya Rp. 400.000, selambat-lambatnya tangal 8 April 2017 ditransfer ke: rekening 
Ikatan Dokter Indonesia cabang Jakarta Pusat, 
BNI 46, acc. no. 000-669-202-9.
Bukti transfer di WA ke dr Putri, +62 812 1168 2700 .
Pendaftaran BATAL (ulangi) BATAL jika sampai dengan tanggal 8 April 2017, belum membayar.

Keuntungan mendaftar melalui http://bit.ly/daftarsimposc :
1. Tempat sangat terbatas, jadi bisa mengetek tempat terlebih dahulu
    (Aula Gedung Prodia hanya memuat 250 orang akan dibagi 2, untuk dokter dan awam)
2. Bisa dapat harga spesial hanya Rp. 400.000 (dari harga normal: Rp. 750.000)
Jadi tunggu apalagi, segera daftar.



#stemcell #selpunca #IDIJakpus #Prodia

Hati-hati dengan penawaran dari 147 TELKOM

Surat bukti penutupan WIFI.ID
Memang kita akui bahwa PT Telkom Indonesia banyak mengeluarkan produk-produk yang inovatif. Dahulu, saya membayar telpon rumah sekitar Rp. 70.000 / bulan. Itu pun sebagian besar karena biaya langganan. Sekarang ini, pembayaran telpon rumah saya sekitar 300 - 400ribu rupiah per bulan dengan IndiHome Triple Play.
Rupanya ke-inovatif-an PT Telkom Indonesia, kurang diikuti dengan Customer Service-nya. Contohnya, sejak lebih dari 6 bulan yang lalu, saya tertarik dan ikut program langganan Wifi.id sebesar Rp. 10.000 / bulan yang ditawarkan via 147. Sayangnya username dan password yang diberikan via email tidak tercantum (attachment-nya tidak ada). Saya pun kontak via Twitter. Ini pun tidak gampang. Admin Twitter menjawab dia hanya bisa memberikan tiga digit terakhir dari password. Terus apa yang saya akan lakukan dengan 3 digit tersebut, username dan password-nya saja tidak saya terima sebelumnya. Setelah berulangkali meyakinkan sang mimin, akhirnya dia pun bersedia meng-email usernama dan password yang setelah dicoba......tidak berhasil. Singkat cerita karena sudah tidak ingin menggunakan +Wifi.id Official lagi, saya pun mencoba menelpon 147 untuk membatalkan langganan @wifi.id tersebut. Ternyata tidak ada yang bisa memberhentikan langganan ini dengan berbagai alasan. Pikiran saya, koq jadi ribet begini kalau mau berhenti langganannya ya?


Mulai saat itu, setiap 147 menelpon untuk menawarkan program baru (saya heran, sang tele marketing selalu menawarkan product baru, sedangkan product yang lama belum beres), selalu saya katakan tidak tertarik dan mohon saya di-unsubscribe program @wifi.id-nya. Responnya pun bermacam-macam. Ada yang mengatakan sudah dicabut tapi ternyata tidak terbukti. Tagihan per bulan Rp. 10.000 masih selalu muncul. Malah ada yang sampai datang ke rumah akan memeriksa router wifi saya. Tentu ditolak, karena masalahnya kan saya tidak bisa akses @wifi.id BUKAN dengan router saya. Koq susah dimengerti ya?


Akhirnya pada tanggal 17 Desember 2016 (setelah sekitar 6 bulan / lebih) saya ke Gerai Telkom di Rawamangun sebelah ACE Hardware. Saya jelaskan apa yang terjadi dan mohon kiranya (masih mencoba) diberi username dan password. Eh...rupanya bahkan di Gerai Telkom pun saya tidak bisa langsung menerima username dan password. Si CS yang namanya tercantum di foto mengatakan bahwa, produk itu harus di-subscribe dari wifi di rumah saya. Saya jelaskan sekali lagi, saya sudah terdaftar, hanya perlu username dan password yang bisa digunakan. Tolong diberikan untuk saya masukan / input LANGSUNG di depan sang CS,ke notebook yang saya bawa ini. Lagipula kenapa harus di rumah? Ini info baru buat saya. Sebelum-sebelumnya, tidak ada info ini dari pihak manapun agar username dan password @wifi.id bisa aktif perlu melakukan subscribe dari wifi rumah.
 
Ya sudah, karena sang CS tidak bisa membantu saya memberikan username dan password, saya minta ditutup saja. Bayangkan bagaimana perasaan dirayu dan dibuat ada tapi tiada. Mau putus juga nggak bisa.

Pertemuan ke-40 KOWAS: Tujuh Tahun Pengabdian #DoctorSHARE

Dr Lie Dharmawan DoctorSHARE bersama KOWAS
Di mana ada kemauan, di situ selalu ada jalan. Apalagi jika kemauan itu mulia seperti menolong orang-orang yang kurang mampu. Dr Lie bahkan sempat dijuluki dokter gila, karena cita-citanya melayani masyarakat timur Indonesia di usia yang sudah tidak muda lagi. Namun kemauan yang membaja dr Lie itu tidak surut. Buktinya guna mewujudkan cita-citanya memiliki kapal RS Apung, dr Lie tidak menyesal menjual salah satu rumahnya. Akhirnya dengan didukung relawan/wati serta para donator, dr Lie terus berkarya tanpa peduli padangan miring orang di sekitarnya.

Pada hari Sabtu 19 November 2016,  bersama Komunitas Senior (KOWAS), kami dundang menghadiri perayaan HUT ke-7 yayasan dari dibentuk dr Lie, Yayasan Dokter Peduli atau yang lebih dikenal dengan julukan DokterSHARE. Acara yang disponsori Jet Sky Cafe di kompleks Pantai Mutiara Jakarta Utara itu, bertujuan memperkenalkan kepada masyarakat program-program DokterSHARE baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilaksanakan. Tentu tidak ketinggalan para undangan bisa masuk dan melihat 2 kapal RS Apung yang sebentar lagi akan menjadi 3 buah kapal / RS Apung.


Berikut foto-fotonya yang bisa diakses di Facebook saya: https://www.facebook.com/media/set/?set=a.10211611196541250.1073741900.1406016449&type=1&l=2f68e1748e


Bekerja dengan efisien dan efektif menghadapi kegagalan

Dalam bekerja, tentu kita menginginkan pekerjaan yang efisien dan efektif. Sayang hal ini tidak mudah tercapai. Khususnya dalam menghadapi kegagalan, ada dua prinsip yang kelihatannya bertolak belakang, yaitu:


  1. Jika melakukan satu hal dan belum berhasil, lakukan hal itu terus menerus. Siapa tahu keberhasilan ada di tindakan berikutnya.
  2. Jika hal yang kita lakukan belum berhasil, coba cara lain. Tidak mungkin hal yang tidak berhasil bisa menjadi berhasil dengan cara yang sama.


Saat topik ini saya posting sebagai pertanyaan di FB saya, banyak yang merespons, namun pada kesimpulannya:

Baik pilihan 1 maupun 2, sama-sama bisa digunakan sesuai situasi dan kondisi. Jika kita yakin bahwa cara yang kita lakukan sudah benar, tidak ada salahnya kita lakukan terus. Namun pastikan keyakinan tersebut kita peroleh dari orang yang sudah berhasil melakukannya.

Pesan saya, jika ingin efisien dan efektif, jangan coba-coba dengan harapan akan berhasil. Kita ikuti saja apa yang sudah berhasil dilakukan orang lain.

Bagaimana dengan pengalaman Anda, ada pendapat lain, silakan di share di bagian comment.

Terima kasih.

BRI membuat kita dekat dengan Tuhan

[Sudah di follow up sama BRI, baca update-an di akhir tulisan] Sudah lebih dari sebulan, saya tidak bisa menggunakan BRI  internet banking. Hal ini dimulai saat saya ingin login ke BRI Internet Banking, ada error message yang menjelaskan bahwa proses ini diblok karena telah salah memasukkan password sebanyak 3x. Padahal seyakin-yakinnya saya tidak salah memasukkan username dan password.

Setelah dibuat cukup repot untuk selalu menggunakan transaksi via ATM BRI, hari ini saya berkesempatan mengunjungi Bank BRI untuk mengajukan komplain mengenai hal tersebut.

Dengan hangat, CS BRI melayani saya. Singkat cerita (aslinya agak panjang termasuk berkali-kali mencoba login di hadapan CS tsb.), setelah saya jelaskan bahwa saya tidak bisa transaksi online gara-gara Username dan Password dibilang salah, akhirnya CS BRI (fisik) menelpon CS BRI (online) untuk mencoba menyelesaikan  hal tersebut.
Dihadapan CS fisik, saya pun berkomunikasi dengan CS online. Seperti biasa, menyamakan data identitas (padahal apa perlunya ya?), dst. Setelah itu CS online mengatakan bahwa sesuai dengan info yang dilihat di komputernya, account saya masih aktif. Saya diminta mencoba login lagi. Namun karena HP saya lowbat dan sudah cukup frustasi dengan prosedur ini, saya pun mengiyakan, iya akan saya coba di rumah saja.

Autodebet BPJS
Karena sudah terlanjur ada di BRI, saya pun mencoba untuk memanfaatkan fasilitas autodebet BRI untuk pembayaran BPJS. Sayangnya untuk saat ini, fitur autodebet pembayaran iuran BRI sudah tidak ada lagi. Boleh dibilang, dua jam saya berada di kantor BRI, tanpa ada sesuatu yang bisa di-solve.


Otokritik: Dokter dan Vaksinasi

Dokter yang memerlukan profesi lain
Berikut disampaikan sebuah tulisan ringan, kurang lebihnya mohon dikomentari.
• Mobil roda empat, tetapi kenapa perlu 5 buah ban?
• Naik motor jarak dekat, tetapi kenapa perlu menggunakan helm?
• Belum tentu bayi akan menderita sakit, tetapi kenapa perlu divaksin?

Hal-hal di atas menunjukkan betapa pentingnya tindakan preventif.


Lalu hubungannya dengan dokter?

Saat ini, sering kita baca di berbagai media, seorang dokter diperiksa polisi/pihak berwenang datang sendirian (tanpa ditemani ahli hukum) ke kantor polisi. Tahu-tahu sudah ditetapkan menjadi tersangka.
Mungkin karena merasa tidak bersalah, jadi sang dokter tidak mempermasalahkan diinterogasi sendirian.

Bagaimana pendapat ts jika ada Bpk/Ibu orang tua yang mengatakan, "Dok, bayi saya tidak perlu vaksin. Kami akan merawat bayi kami sebaik mungkin. Kami yakin dengan perawatan yang kami lakukan, bayi kami tidak akan terjangkit penyakit yang divaksin tersebut!!"

Jaman sudah berubah, menurut saya, seorang dokter, terlepas dari akan dinyatakan bersalah atau tidak, hendaknya mau melindungi dirinya dengan menggunakan ahli hukum saat berhadapan dengan penegak hukum. Sama seperti masyarakat yang sudah menyerahkan urusan vaksin ke dokter, tidak ada salahnya dokter juga meminta bantuan ahli hukum untuk membantunya. Sebelum terlambat dan bahkan menerima hukuman dari masyarakat meskipun belum ditanyakan  bersalah.

Bagaimana pendapat Anda?

Tulisan sejenis: https://businessinspiration.co/2016/07/23/diinterogasi-dokter-perlu-mahfum-perlunya-ahli-hukum/