IdBlogNetwork

Pertemuan ke-40 KOWAS: Tujuh Tahun Pengabdian #DoctorSHARE

Dr Lie Dharmawan DoctorSHARE bersama KOWAS
Di mana ada kemauan, di situ selalu ada jalan. Apalagi jika kemauan itu mulia seperti menolong orang-orang yang kurang mampu. Dr Lie bahkan sempat dijuluki dokter gila, karena cita-citanya melayani masyarakat timur Indonesia di usia yang sudah tidak muda lagi. Namun kemauan yang membaja dr Lie itu tidak surut. Buktinya guna mewujudkan cita-citanya memiliki kapal RS Apung, dr Lie tidak menyesal menjual salah satu rumahnya. Akhirnya dengan didukung relawan/wati serta para donator, dr Lie terus berkarya tanpa peduli padangan miring orang di sekitarnya.

Pada hari Sabtu 19 November 2016,  bersama Komunitas Senior (KOWAS), kami dundang menghadiri perayaan HUT ke-7 yayasan dari dibentuk dr Lie, Yayasan Dokter Peduli atau yang lebih dikenal dengan julukan DokterSHARE. Acara yang disponsori Jet Sky Cafe di kompleks Pantai Mutiara Jakarta Utara itu, bertujuan memperkenalkan kepada masyarakat program-program DokterSHARE baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilaksanakan. Tentu tidak ketinggalan para undangan bisa masuk dan melihat 2 kapal RS Apung yang sebentar lagi akan menjadi 3 buah kapal / RS Apung.


Berikut foto-fotonya yang bisa diakses di Facebook saya: https://www.facebook.com/media/set/?set=a.10211611196541250.1073741900.1406016449&type=1&l=2f68e1748e


Bekerja dengan efisien dan efektif menghadapi kegagalan

Dalam bekerja, tentu kita menginginkan pekerjaan yang efisien dan efektif. Sayang hal ini tidak mudah tercapai. Khususnya dalam menghadapi kegagalan, ada dua prinsip yang kelihatannya bertolak belakang, yaitu:


  1. Jika melakukan satu hal dan belum berhasil, lakukan hal itu terus menerus. Siapa tahu keberhasilan ada di tindakan berikutnya.
  2. Jika hal yang kita lakukan belum berhasil, coba cara lain. Tidak mungkin hal yang tidak berhasil bisa menjadi berhasil dengan cara yang sama.


Saat topik ini saya posting sebagai pertanyaan di FB saya, banyak yang merespons, namun pada kesimpulannya:

Baik pilihan 1 maupun 2, sama-sama bisa digunakan sesuai situasi dan kondisi. Jika kita yakin bahwa cara yang kita lakukan sudah benar, tidak ada salahnya kita lakukan terus. Namun pastikan keyakinan tersebut kita peroleh dari orang yang sudah berhasil melakukannya.

Pesan saya, jika ingin efisien dan efektif, jangan coba-coba dengan harapan akan berhasil. Kita ikuti saja apa yang sudah berhasil dilakukan orang lain.

Bagaimana dengan pengalaman Anda, ada pendapat lain, silakan di share di bagian comment.

Terima kasih.

BRI membuat kita dekat dengan Tuhan

[Sudah di follow up sama BRI, baca update-an di akhir tulisan] Sudah lebih dari sebulan, saya tidak bisa menggunakan BRI  internet banking. Hal ini dimulai saat saya ingin login ke BRI Internet Banking, ada error message yang menjelaskan bahwa proses ini diblok karena telah salah memasukkan password sebanyak 3x. Padahal seyakin-yakinnya saya tidak salah memasukkan username dan password.

Setelah dibuat cukup repot untuk selalu menggunakan transaksi via ATM BRI, hari ini saya berkesempatan mengunjungi Bank BRI untuk mengajukan komplain mengenai hal tersebut.

Dengan hangat, CS BRI melayani saya. Singkat cerita (aslinya agak panjang termasuk berkali-kali mencoba login di hadapan CS tsb.), setelah saya jelaskan bahwa saya tidak bisa transaksi online gara-gara Username dan Password dibilang salah, akhirnya CS BRI (fisik) menelpon CS BRI (online) untuk mencoba menyelesaikan  hal tersebut.
Dihadapan CS fisik, saya pun berkomunikasi dengan CS online. Seperti biasa, menyamakan data identitas (padahal apa perlunya ya?), dst. Setelah itu CS online mengatakan bahwa sesuai dengan info yang dilihat di komputernya, account saya masih aktif. Saya diminta mencoba login lagi. Namun karena HP saya lowbat dan sudah cukup frustasi dengan prosedur ini, saya pun mengiyakan, iya akan saya coba di rumah saja.

Autodebet BPJS
Karena sudah terlanjur ada di BRI, saya pun mencoba untuk memanfaatkan fasilitas autodebet BRI untuk pembayaran BPJS. Sayangnya untuk saat ini, fitur autodebet pembayaran iuran BRI sudah tidak ada lagi. Boleh dibilang, dua jam saya berada di kantor BRI, tanpa ada sesuatu yang bisa di-solve.


Otokritik: Dokter dan Vaksinasi

Dokter yang memerlukan profesi lain
Berikut disampaikan sebuah tulisan ringan, kurang lebihnya mohon dikomentari.
• Mobil roda empat, tetapi kenapa perlu 5 buah ban?
• Naik motor jarak dekat, tetapi kenapa perlu menggunakan helm?
• Belum tentu bayi akan menderita sakit, tetapi kenapa perlu divaksin?

Hal-hal di atas menunjukkan betapa pentingnya tindakan preventif.


Lalu hubungannya dengan dokter?

Saat ini, sering kita baca di berbagai media, seorang dokter diperiksa polisi/pihak berwenang datang sendirian (tanpa ditemani ahli hukum) ke kantor polisi. Tahu-tahu sudah ditetapkan menjadi tersangka.
Mungkin karena merasa tidak bersalah, jadi sang dokter tidak mempermasalahkan diinterogasi sendirian.

Bagaimana pendapat ts jika ada Bpk/Ibu orang tua yang mengatakan, "Dok, bayi saya tidak perlu vaksin. Kami akan merawat bayi kami sebaik mungkin. Kami yakin dengan perawatan yang kami lakukan, bayi kami tidak akan terjangkit penyakit yang divaksin tersebut!!"

Jaman sudah berubah, menurut saya, seorang dokter, terlepas dari akan dinyatakan bersalah atau tidak, hendaknya mau melindungi dirinya dengan menggunakan ahli hukum saat berhadapan dengan penegak hukum. Sama seperti masyarakat yang sudah menyerahkan urusan vaksin ke dokter, tidak ada salahnya dokter juga meminta bantuan ahli hukum untuk membantunya. Sebelum terlambat dan bahkan menerima hukuman dari masyarakat meskipun belum ditanyakan  bersalah.

Bagaimana pendapat Anda?

Tulisan sejenis: https://businessinspiration.co/2016/07/23/diinterogasi-dokter-perlu-mahfum-perlunya-ahli-hukum/


Bagaimana Rumah Sakit JCI melindungi pasien dari Vaksin Palsu

Keselamatan pasien / Patient Safety merupakan tujuan utama dari akreditasi Rumah Sakit standard Internasional JCI atau Joint Commission International. Sehubungan dengan beredarnya informasi mengenai adanya Vaksin Palsu, berikut penjelasan dr Ferdy Tiwow MS, Direktur Korporat Grup RS Awal Bros, kelompok RS peraih JCI dengan jumlah terbanyak dalam satu grup di Indonesia.

Latar belakang pemilihan Standard JCI
Saat ditanya, kenapa JCI yang dipilih, bukan standard-standard internasional lainnya, Ferdy menjelaskan bahwa meskipun aspek-aspek dalam standard JCI itu banyak, tapi pada umumnya sebagian besar untuk keselamatan pasien. Standar JCI mengukur bagaimana Rumah Sakit menerapkan cara-cara yang aman untuk meminimalkan kejadian yang bisa mengancam keselamatan pasien (patient safety). Sebelumnya, masih menurut dokter lulusan FK UNSRAT Manado tersebut, Grup RS Awal Bros menggunakan standard yang lebih banyak mengukur kelengkapan administrasi/dokumentasi. JCI dipilih karena lebih memperhatikan keselamatan pasien.

Bagaimana Rumah Sakit yang terakreditasi JCI bisa melindungi pasiennya dari penggunaan Vaksin Palsu
Dalam hal ini, Rumah Sakit yang telah terakreditasi JCI sudah menerapkan standard yang disebut Supply Chain Management dalam menyeleksi pembelian obat, alat kesehatan (alkes) dan vaksin. Proses seleksi ini sudah dimulai dari saat produksi (di pabrik obat/ farmasi), saat berada di distributor hingga rantai distribusi di dalam rumah sakit itu sendiri.
Contohnya, rumah sakit akan memilih obat yang diproduksi oleh pabrik obat / farmasi yang telah memenuhi standard Good Manufacturing Practise (GMP) / Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Rumah sakit juga akan memilih dan bekerjasama dengan perusahaan distributor yang telah menjalankan proses distribusi sesuai dengan pedoman Good Distribution Practise (GDP) atau Tata Cara Distribusi Obat yang Benar. Begitu juga dengan perlakuan produk tersebut di dalam rumah sakit hingga diberikan ke pasien. Tentu semuanya dilakukan dengan ketentuan yang berlaku.
Untuk memastikan hal-hal di atas, pihak yang ingin bekerjasama dengan rumah sakit harus bersedia untuk dikunjungi tim dari Rumah Sakit untuk melihat apakah benar standard-standard tersebut telah dijalankan.
Saat berkunjung ke perusahaan distribusi, pihak rumah sakit harus meninjau apakah  memenuhi persyaratan, seperti: 
  • Distributor memiliki ruang penyimpanan obat yang berpengatur suhu dan kelembaban sehingga dapat menjamin kualitas obat dan/atau bahan obat selama dalam penyimpanan
  • Produk tidak terekspos suhu yang tinggi, kelembaban yang tinggi,  sinar matahari langsung dan hujan
  • Distributor memiliki orang-orang yang akan mengawasi proses distribusi / apoteker
  • Distributor memiliki prosedur untuk mengenal obat-obat kadaluarsa
  • Distributor memiliki prosedur untuk re-call (penarikan kembali)
  • Distributor memiliki prosedur untuk bisa melihat dan  memisahkan apakah obat itu fake (palsu) atau diverted (dikemas kembali)


Pemanfaatan GDrive dalam pembuatan Website Corporate

Melihat judul tulisan di atas, mungkin ada pembaca yang masih bingung. Apa hubungan Gdrive dengan pembuatan website?

Sebelum menjelaskan hal itu, perkenankan saya memperkenalkan diri dulu. Mudah-mudah dengan mengetahui latar belakang profesi saya saat ini, pembaca bisa lebih jelas hubungan Gdrive dengan website.

Berlatar pendidikan dokter, sejak awal saya memiliki misi pribadi yaitu bagaimana IT bisa membantu dunia kesehatan.  Pekerjaan demi pekerjaan sudah saya tempuh dalam rangka menjalankan misi tersebut yang akhirnya tiba pada profesi saat ini yaitu sebagai Health Social Media Consultant.

Ada satu project yang saya kerjakan saat ini yaitu pembuatan website multisociomedia. Disebut website multisociomedia karena menggabungkan antara web perusahaan dengan multimedia dan social media perusahaan.

Project ini adalah project dari salah satu group Rumah Sakit yang memiliki banyak cabang (ada 9 cabang) yang tersebar di sebagian Indonesia seperti di Sumatera, Jawa dan Sulawesi.

Tentu untuk mengerjakan ini saya menggandeng developer, yaitu pihak yang merancang dan membuat website.

Belajar dari pengalaman membangun website sebelumnya, salah satu (satu aja, yang lain akan ditulis dalam artikel lain lagi) kendala yang bisa terjadi adalah komunikasi data. Jadi sang developer harus menerima data dari 10 tempat (9 cabang + 1 kantor pusat). Bayangkan betapa repotnya jika sang developer tidak memiliki kemampuan mengelola (arsip) data tersebut. Yang bisa terjadi, saat data dibutuhkan dan tidak ketemu, bisa saling lempar tanggung jawab. "Saya sudah kirim koq", "tanggal berapa", "nama pengirimnya siapa", dst..yang akhirnya mesti re-send lagi kalau belum ketemu.
Apalagi jika subjet file emailnya sering sama atau hanya merupakan reply dari email sebelumnya. Yang pernah mengalami pasti bisa membayangkan :)
Tahu kan mail box sekarang, email sering ditumpuk2.

Pemanfaatan Gdrive

Pengalaman dengan Customer Service Printer Hewlett Packard

Tampilan Desktop saat di-remote
Suatu sore, saat hendak menggunakan printer via wireless ternyata tidak berhasil. Cek
router wifi di rumah masih on, tapi lampu wifi di printer Hewlett Packard HP Deskjet Ink
Advantage 2425 All-in-One Printer saya, kelap-kelip laksana bintang di langit. Mungkin karena sudah sebulan tidak menggunakan printer ini, jadinya begini. Nggak connect wifi-nya.
Mulailah saya mencoba 'mereparasi' printer tersebut. Di-restart (baik printer maupun router
wifi-nya), tetap juga tidak berhasil. Googling....diminta untuk menekan tombol wifi dan X secara bersamaan hingga lampu power kelap-kelip. Kayaknya masuk akal, di-reset agar si printer bisa mencari lagi wifinya. Dan........nggak berhasil juga saudara-saudari.


Akhirnya karena sudah tidak tahu mau diapain lagi, saya pun mencari account twitter HP Indonesia. Begitu melihat lamannya twitter HP, ternyata tercantum no telpon CS-nya. Ah....daripada nge-twit mending nelpon untuk berbicara langsung dengan CS/teknisinya.
Dengan ramah sang CS menanyakan tipe printer dan nomor seri. Setelah diberikan kemudian saya diminta masuk ke halaman tertetu dan menulis kode tertentu. Jadilah komputer saya di-remote sama sang teknisi.
Dengan penuh sabar teknisi HP (yang dalam percakapan menunggu software di instalasi
akhirnya diketahui) bernama Ali mendownload software dan menginstall lagi agar wifi saya
bisa berfungsi.


Customer Service dari Malaysia

Ahok, bukan Gubernur Biasa!!

Ahok, bukan Gubernur Biasa!!
Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan ngobrol dengan teman-teman se-Jabodetabek. Banyak hal yang kita bicarakan antara lain, mulai dari sistem pelayanan kesehatan saat ini (BPJS dengan turunannya), apakah era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) sudah ada dampaknya, perkembangan ekonomi ke depan terutama di Indonesia, peluang-peluang yang mungkin bisa dikerjakan, dll.

Dalam skala internasional dan nasional, kelihatan pengalaman/pandangan kita sama, namun menarik saat kita berbicara dalam skala propinsi. Saat kita berdiskusi / sharing mengenai pengurusan ijin, hampir semua teman-teman saya mengeluh, kecuali saya (yang di Jakarta).

Dalam hati saya, he...he....he... siapa dulu donk Gubernurnya. :)

Setujukah Anda dengan pendapat saya?

Punya pengalaman mengurus ijin di Jakarta atau di daerah lain?



Link mengenai Pemprov DKI
- VIDEO: Pidato Dasyat Ahok Saat Meresmikan Taman Terpadu RPTRA Meruya Utara
- Ahok: Pemprov DKI bersedia membeli RS
- QLUE: Selamat kepada Keluruhan Cempaka Putih Timur
- Ahok: RS Kecil boleh menolak pasien
- Ahok: Ambulans Gratis Pemprov DKI
- VIDEO EKSKLUSIF: Dokter Singapura lebih Komunikatif

Tips cari tahu dokter berizin atau tidak

Aplikasi cek dokter
Membaca berita akhir-akhir ini mengenai "dokter” asing yang berpraktek di Indonesia, muncul berbagai pertanyaan di masyarakat yang salah satunya adalah, bagaimana cara kita mengetahui dokter itu berizin atau tidak? Begini caranya:


Tidak mudah memperoleh ijin Praktik
Peraturan mengurus ijin praktek dokter ataupun klinik menurut pengalaman saya sudah cukup memadai. Jika seseorang ingin mengurus ijin, banyak hal yang perlu dipersiapkan, antara lain: surat rekomendasi dari IDI, kemudian ada survei dari Suku Dinas, barulah jika semua sesuai dengan persyaratan, ijin akan diberikan. Untuk mendapatkan rekomendasi IDI, seorang dokter harus bisa menunjukkan ijazah dokter (copy yang terlegalisir) dan surat lulus dari kolegium serta sertifikat dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), dan persyaratan umum lainnya.

Sayangnya kita sering melihat ada plang/papan nama “klinik” yang menurut saya koq bisa lulus, seperti Klinik Sunat, Klinik Wasir, Klinik Totok Syaraf, Klinik Suhu XXX, Klinik Bekam dan Klinik-klinik lainnya. Mengikuti pakem tersebut, tidak heran bisa keluar nama-nama Klinik seperti: Klinik Chiropractic, Klinik Riset, dll., yang besar kemungkinan pengurusan ijin klinik tersebut tidak melalui prosedur yang disyaratkan. 

Untuk mencegah kebingungan masyarakat sebenarnya pemerintah telah membuat suatu istilah bagi tempat Pengobatan Tradisional  yaitu Batra = Balai Pengobatan Tradisional. Sayangnya istilah Batra ini belum mencakup pengobatan alternatif yang bukan pengobatan tradisional. Jadilah layanan kesehatan alternatif non-tradisional sering menggunakan istilah Klinik. Lagipula istilah Klinik dianggap lebih menjual daripada Batra.

Kembali ke isu semula, bagaimana masyarakat bisa mengetahui dokter yang bertugas di Klinik tersebut memiliki legalitas? Yang paling mudah tentu menanyakan ke dokter ybs / pengurus Klinik, tapi seberapa banyak yang berani? Cara lainnya, adalah dengan melihat di papan nama dokter. Setiap dokter yang berpraktek harus memiliki no Surat Ijin Praktek (SIP), carilah papan nama dokter tersebut, tercantum tidak no SIPnya.

Tipe-tipe Pemimpin berdasarkan keadaan kritis

Akhir-akhir ini, kita bisa merasakan penderitaan yang dialami oleh keluarga/sahabat/rekan kerja kita di pulau Sumatera, Kalimantan bahkan Sulawesi. Penderitaan yang diakibatkan oleh pembakaran hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Menurut informasi, cara membakar tersebut awal-awalnya dirasakan bermanfaat dan murah, tapi pada akhirnya sampai pada keadaan yang tidak bisa ditanggulangi sehingga membuat penduduk daerah tersebut menjadi susah untuk bernapas. Mudah-mudahan penderitaan keluarga/rekan kerja kita ini bisa segera berakhir.

Sehubungan dengan hal tersebut, sebenarnya kalau kita perhatikan, tipe-tipe pemimpin dalam satu peruahaan bisa dianalogikan dengan keadaan tersebut:

1. Tipe pembakar
Pemimpin tipe ini, bisa disebut pemimpin yang bisa memberi solusi jangka pendek. Jika ada satu masalah, yang bersangkutan bisa memberikan solusinya dengan harga yang dianggap murah (efisien). Kelihatan menguntungkan saat itu. Namun sang pemimpin tipe pembakar ini belum memperhitungkan efek jangka panjangnya. Istilahnya berpikirnya kurang strategis. Hanya bisa menyelesaikan / solusi jangka pendek.