IdBlogNetwork

Boenjamin Setiawan: orang tua perlu bergaul dengan teman-teman segenerasinya

dr Boen sharing di acara ASLI
"Meskipun saya sering mengisi waktu luang dengan berinternet (dan menjalankan perusahaan pribadi, red), namun saya tetap mencari waktu untuk bersosialisasi dengan mereka yang sudah masuk dalam usia senior. Untuk itulah kami membentuk perkumpulan yang diberi nama KOWAS (Komunitas Warga Senior). KOWAS rutin mengadakan pertemuan membahas berbagai hal seperti kesehatan, kesejahteraan, dll.”, demikian ungkap dr Boenjamin Setiawan saat diminta komentarnya bagaimana ia mengisi waktu luang di usia 80-an tahun pada acara yang diselenggarakan oleh Asosiasi Senior Living Indonesia (ASLI), Sabtu, 14 Februari 2015 di Balai Kartini Jl. Gatot Soebroto Jakarta.

Konsep agar selalu bersama-sama dengan komunitas seusia dan beraktifitas sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis kiranya menjadi tema dari acara yang diberi judul “Senior Living sebagai Gaya Hidup Lanjut”.

Saat di mana, sang anak ataupun cucu sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing, alangkah mirisnya kalau orang tua kita diminta menjadi “penjaga setia” rumah saja. Lagi pula menurut penelitian, berkumpul dengan teman-teman bisa memperpanjang usia kita secara berkualitas, baca: Ingin umur panjang, bergaullah, http://www.eriktapan.com/2011/01/want-to-live-longer-and-healthy.html

I3L - Healthcare transformation: This time it’s real!

Jeremy Lim - I3L Advisory Board Member.
Bagaimana rasanya jika kita (sebagai orang awam yang menderita penyakit kronis) tidak perlu sering-sering ke dokter, namun kesehatan kita tetap terjaga? Atau bagi tenaga kesehatan, pasien yang datang hanya yang benar-benar membutuhkan penanganan langsung. 

Parameter pemeriksaan kesehatan seperti: tekanan darah, suhu bahkan jumlah langkah kita pun bisa termonitor oleh gadget. Hasil pemeriksaan laboratorium hingga EKG sudah terhubung langsung dengan pusat data di rumah sakit langganan kita.

Wah mana mungkin, biar bagaimana pun kontrol ke dokter itu penting.

Iya, saya tahu itu penting, tapi pernahkan kita berpikir bahwa sebelum ada mesin ATM, orang harus ke bank untuk menabung, mengecek saldo, dll. Tapi apa yang terjadi saat ini, bahkan untuk transfer uang antar bank pun bisa dilakukan via internet (di depan komputer / notebook) di tempat masing-masing.

Cepat atau lambat teknologi akan mempengaruhi layanan kesehatan, yang sayangnya inovasi hal ini lebih banyak berasal dari luar masyarakat kedokteran/kesehatan. 

Pemahaman inilah yang menjadi inti dari presentasi Dr Jeremy Lim di Indonesia International Institute for Life Sciences (I3L) Jakarta, Selasa 13 Januari 2015.

Video Conference menggunakan Google Hang Out

salah satu fitur Google Hang Out, back ground themes
Google Hang Out adalah software video conference yang ketiga yang saya coba. Percobaan dengan software lainnya bisa dilihat di link / URL di bawah artikel ini.
Pada tanggal 30 Desember 2014 sekitar pukul 3 sore, saya melakukan video conference (sekali lagi) dengan Nofa yang dilanjutkan dengan Mas Dewo pada hari yang berbeda. Dari pengalaman tersebut, saya mengambil kesimpulan:

  1. dari sisi fungsi kelihatan bisa mengakomodasi fungsi video conference yang saya inginkan.
  2. masih banyak fungsi / fitur lainnya yang perlu dicoba

Namun ada kelebihan  (atau kekurangan?) dari Google Hangout, yaitu: fiturnya sangat beraneka ragam seperti bisa mengganti back ground, presenternya bisa di "make over” mengenakan kacamata atau berkumis, dst…dst. Ini yang membuat saya, Nofa dan terakhir dengan Mas Dewo jadi lebih asyik utak-atik fitur tersebut dibandingkan mengexplore fitur-fitur khusus video conference. Fasilitas yang lebih cocok ke ABG.

Komputer cepat panas dan baterei boros

Sayangnya dari pengamatan / pengalaman saya, saat menggunakan Google Hang Out, notebook menjadi cepat panas (sehingga kipasnya menderu-deru) serta boros baterei. Sudah 2 jenis notebook yang saya coba yaitu Mac Book Air dan Notebook merk HP. Semuanya begitu. Ada yang bisa menjelaskan kenapa hal ini bisa terjadi?

Video Conference menggunakan ClickMeeting

Gambar 1. tampilan saat penulis mempresentasikan *.ppt
Saat ini, saya sedang mencari produk video conference yang sesuai dengan kondisi saya di Jakarta Indonesia. Setelah mencoba video conference dari TalkFusion (Video Conference menggunakan Talk Fusion), tulisan saya di bawah ini merupakan pengalaman saya menggunakan video conference ClickMeeting, pada hari ini tanggal Jumat 26 Desember 2014, sekitar pukul 12:00 WIB siang.


Product Click Meeting sering saya lihat  banner iklan- nya pada berbagai social media. Kemungkinan pihak Social Media sudah mengetahui bahwa saya sedang mencari product video conference. Jadi sebagian besar halaman social media yang saya buka, banner ClickMeeting ini pun muncul.

Baiklah tanpa berpanjang lebar lagi, saya akan membagi pengalaman saya ber video conference, dimulai dari pengalaman saya dengan mereka yang menggunakan gadget dan selanjutnya dengan mereka menggunakan notebook/komputer/MAC:


Menggunakan Gadget
Gambar 2. dr Tony (yang menggunakan HP Asus),
akhirnya berhasil melakukan video conference,
tapi suara saya delay
Dari beberapa teman yang saya undang/invite, kesimpulan saya, produk  Clickmeeting ini akan mengalami kesulitan jika ada pesertanya yang menggunakan gadget.

Beberapa orang yang saya undang tidak bisa join. Kalau pun bisa masuk dalam ruang diskusi, ada yang hanya bisa mendengar dan melihat saja. Interaksinya pun hanya bisa via chat. Paling maksimal berdiskusi dengan suara saya yang terlambat/delay. Jadi setiap kali saya berbicara, saya harus menunggu suara saya terdengar di gadgetnya.



Menggunakan Notebook / MAC
Gambar 3. Video Conference dengan White Board
Berbeda halnya jikalau teman berbicara saya menggunakan notebook/PC/MAC dengan internet akses yang mumpuni. Hasilnya pun sempurna. Kita bisa berdiskusi secara normal, audio visual. Bahkan saya bisa melakukan presentasi dengan *.ppt, menggambar maupun menulis di board-nya ClickMeeting ini.








Video Conference menggunakan Talk Fusion

Gbr. 1 Saat presentasi berlangsung,
kita bisa diskusi via chat room
Saat saya sedang mencari-cari metode / cara ber-video conference menggunakan internet, teman saya memperkenalkan suatu produk yang disebut Talk Fusion.

Sepakatlah kami, pada Rabu, 24 Desember 2014 menjajal vidcon TalkFusion tersebut. Mulai pukul 5 sore, bergantian kami ngobrol dengan audio, diskusi dengan chat dan melihat serta mendengar presentasi hingga pukul 6 sore.

Bisa dilaporkan, meskipun akses internet dan pesawat yang kami gunakan berbeda-beda (ada yang menggunakan GSM, CDMA, fixed line/Telkom, dengan handphone maupun notebook / macbook), namun secara keseluruhan proses vidcon berjalan dengan mulus (baik dan lancar). 

Gbr 2. Sesi diskusi audio-visual-text
yang berjalan dengan lancar

Produk seperti inilah yang saya inginkan. Sayangnya untuk menggunakan produk ini, meskipun harga langganan bulanannya cukup masuk akal, tapi biaya investasinya cukup besar. Mungkin ada pembaca yang punya usulan metode lain yang harganya lebih terjangkau?








Tulisan lain mengenai Video Conference:

Kesempatan menjajal speed Indihome

menonton siaran DAAI TV (live streaming) 
Meskipun fasilitas Indihome di rumah masih menggunakan kabel tembaga (seharusnya sih fiber optik), namun saya punya niat untuk menjajal kemampuan akses internetnya.

Akhirnya tidak sengaja, kesempatan itu tiba, pada siang hari ini Rabu 17 Desember 2014. Saya diinfo oleh pihak RSIA Evasari bahwa pada jam 11 siang nanti ada acara Talk Show Dunia Sehat di DAAI TV  yang membahas mengenai batu empedu dengan nara sumber dr Ignatia Sinta Murti SpPD. Berhubung siaran DAAI TV, samar-samar tertangkap oleh antena TV rumah kami, maka saya mencari streaming-nya dan ketemu di http://www.mivo.com/#/daaitv. Nontonlah saya dengan menggunakan notebook.

Streaming DAAI TV
Bisa dilaporkan bahwa kualitas suaranya bagus, begitu pula gambar jernih/bening banget. Hanya memang untuk gambar agak tersendat-sendat (patah-patah) dikit.

Video Chat dengan Google HangOut

Video Chat menggunakan
Google HangOut

Tak disangka-sangka pada saat bersamaan, teman saya Nofa Stefanus ingin ngobrol via Google Hang Out. Jadilah secara bersamaan saya menonton streaming DAAI TV (via notebook) sambil video chatting (via Gadget) dengan Nofa.

Selamat HUT ke-119 BRI, semoga semakin tulus melayani nasabah


Surprise terjadi sewaktu penulis mengunjungi BRI KCP Cempaka Putih Raya. Senyum manis yang tulus menyambut penulis mulai dari security, customer service hingga teller-nya. Namun itu sudah biasa (hal yang dialami setiap kali penulis mengunjungi BRI KCP Cempaka Putih), yang luar biasa kali ini, mereka mengenakan seragam kebaya.
Suasana ruangannya pun dipenuhi dengan balon-balon aneka warna (cuman 2 warna ding: putih dan biru). Saat petugasnya menyodorkan box kue, penulis langsung bertanya, ada apa nih?

"Hari ini bank kami berulang tahun Pak." jelas salah satu teller dengan senyum manisnya. "Wah selamat ulang tahun ya, semoga semakin tulus melayani nasabah", jawab penulis sambil melirik X-banner untuk membaca slogan Bank BRI.

Di hari yang berbahagia ini tidak ada salahnya penulis ingin memberi masukan.

Sebagai nasabah baru BRI (kurang lebih 1 tahun), penulis sih fine-fine saja dengan sistem perbankannya, namun ada satu hal yang kiranya bisa jadi tantangan BRI, yaitu meningkatkan kualitas sistem informasi-nya. Ada beberapa kejadian yang penulis alami sendiri seperti: tidak bisa print buku karena sistem seringkali offline, penulis juga pernah bermasalah dengan internet banking dan notifikasi SMSnya.

Mudah-mudahan ke depan BRI semakin menguatkan sistem ITnya. Maju terus.

Saksikan video penulis di: https://www.youtube.com/watch?v=VyZbhVpiKBg

Payudara jangan cuman dipandang, pegang dan raba!!

ki-ka: moderator, Samantha Barbara, dr Aru Sudoyo, Ani Rahardjo
Menurut dr Aru W. Sudoyo, dari Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI), banyak pasien kanker payudara yang datang ke dokter saat kondisinya sudah berat. Salah satu metode deteksi dini kanker payudara SADARI, ditengarai belum banyak yang melakukannya. Sebabnya, bukan tidak tahu, tapi lebih kepada perasaan risih memegang, meraba payudara meskipun itu payudara sendiri.

Hal ini terungkap pada acara yang diselenggarakan GE Healthcare, yang memaparkan hasil penelitian global terbaru mengenai kesadaran terhadap kanker payudara di Hotel JW Marriot Kuningan Jakarta, Rabu 3 Desember 2014.

"Hasil penelitian ini menyoroti kesempatan untuk meningkatkan kesadaran terhadap jaringan payudara yang padat (dense breast tissue) menjadi lebih baik termasuk memberdayakan perempuan agar berperan aktif dalam menjaga kesehatan payudaranya. Meskipun banyak yang sudah mengetahui betapa pentingnya pemeriksaan umum kanker payudara, survei ini menunjukkan bahwa secara global risiko jaringan payudara yang padat belum dipahami secara luas. Dan di Indonesia, tantangannya adalah bagaimana membuat informasi ini menjadi tindakan nyata", ungkap Ani Rahardjo, Marketing Leader GE Healthcare.

Turut menyampaikan testimoni pada acara ini, salah seorang survivor kanker payudara dan Ketua Lovepink Indonesia, Samantha Barbara.

Artikel terkait:
- Cara mencegah Kanker Payudara 1
- Cara mencegah Kanker Payudara 2
- Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari)

Video mengenai penulis: https://www.youtube.com/watch?v=VyZbhVpiKBg


Mencoba langganan IndiHome dari Telkom

Ini tim Marketing TELKOM yang berhasil meyakinkan saya
Sebagai seorang blogger, selalu terhubung dengan internet dan dengan kecepatan akses yang mumpuni adalah suatu kebutuhan primer. Sayangnya provider yang saya gunakan saat ini, sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan saya tersebut. Sebagai gambaran bagaimana kecepatan internet yang saya nikmati saat  ini adalah sangat susah bagi saya untuk menonton video streaming. Untuk download file, bisa putus di tengah jalan.  :(

Sudah lama saya melihat /  membaca brosur mengenai Paket IndiHome dari Telkom, tapi selama ini karena mempunyai pengalaman yang kurang baik dengan Telkom Speedy, maka dicuekin saja. Kata teman-teman sekantor saat saya menunjukkan brosur IndiHome yang saya terima, "Ingat lho IndoHome itu punya TELKOM!!" .

Namun hari ini, saya berhasil diyakinkan oleh tim Marketing IndiHome bahwa dengan kabel fiber optik yang mereka miliki , akses internetnya, pasti lancar dan tidak akan putus/down.

So, kita lihat hasilnya nanti. Saya akan cerita kembali setelah saya berhasil menggunakannya.

Berikut hasilnya:
http://www.eriktapan.com/2014/12/kesempatan-menjajal-speed-indihome.html

Paket IndiHome

Trik ngurus perpanjangan STNK tanpa biro jasa

prosesnya 10 menitan, nunggunya yg lama
Masyarakat Ibukota saat ini dimanjakan oleh pelayanan publik. Ini kisah mengenai pengurusan perpanjangan STNK tanpa menggunakan biro jasa.

Seperti biasa, setahun sekali pemilik kendaraan bermotor perlu "melapor" ke Samsat untuk perpanjangan STNK. Entah sudah keberapa kali saya mengurusnya, tapi selalu ada yang unik yang bisa dibagi ke netizen. #dasarblogger

Pengurusan hanya memakan waktu 10 menit saja Seperti kita ketahui bersama, jika ingin mengurus perpanjangan baik SIM maupun STNK, cara yang cukup mudah dan menyenangkan adalah dengan mengurusnya di pusat perbelanjaan, khususnya di Mal Artha Gading Jakarta Utara. Memang mal ini terkenal dengan fasilitas layanan publik-nya, contohnya beberapa waktu yang lalu pengurusan RFID bisa di mal ini.

Kembali ke laptop / mac book. :)
Pengurusan pembayaran pajak tahunan kendaraan bermotor pun cukup mudah. Siapkan saja berkas seperti photo kopi KTP, STNK dan BPKP. Kemudian mengisi formulir yang disediakan. Tak lama kemudian STNK perpanjangan itu pun selesai. Seperti itulah yang saya alami, Jumat 7 November 2014. Prosesnya mulai mengantri pkl. 13:00 dan selesai pada pkl 13:10. Artinya dari mengantri, memasukkan berkas, membayar dan menerima STNK baru, hanya membutuhkan sekitar 10 menit saja. Bravo kecepatan pelayanannya. Lalu kenapa saya perlu membayar parkir Rp. 16.000 seperti foto di atas?

Ini kisah panjangnya: